Sabtu, 06 Mei 2017
Markas Bokep NIA BERUNTUNGNYA DIRIKU

aku seneng banged game Counter Strike.
Suatu hari aku dan teman -temanku sepakat untuk bermain CS bersama,
menengar itu,aku sangat senang,saat pulang kuliah,
langsung kutancap motorku ke game centre yang kami sepakati bersama,aku yang paling pertama sampai di sana,aku segera masuk dan aku mencari komputer kosong,kulihat nomor 28 kosong,tetapi itu berarti aku harus di sudut dan agak terpencil karena no.27 dan 28 bersebelahan setelah itu komputer selanjutnya agak berjauhan.
Aku segera ke tempat itu,kulihat no.27 diisi oleh seorang gadis yang masih berseragam SMA,dia sekilas melihatku lalu tersenyum padaku,aku membalas senyumannya dengan hangat,kuprehatikan gadis itu,dia sungguh cantik,wajahnya bakal memikat siapapun yang melihatnya,dia memiliki tubuh montok dengan payudara yang lumayan untuk gadis seumuran dia
.HPku berbunyi kulihat itu dari yoga,temanku yang berjanji untuk bermain CS bersama,
"Sori ya,Gas,aku gak bisa main hari ini,soalnya ibuku ngelarang aku,yazir dan Rizal juga gak bisa,tuh.","Ya udah deh,gak apa- apa",jawabku singkat sambil menutup HPku dengan kecewa."Kamu sendirian?",gadis itu bertanya padaku dengan penasaran,
"Iya,nih,tadi aku janjian sama teman- temanku,tapi karena berbagai alasan,mereka tak bisa datang","Oh,kalo gitu kita main
CS bersama aja,aku juga baru belajar,kok".Aku segera menyutujuinya dan kami bermain bersama,gadis itu belakangan kuketahui bernama Nia,seorang pelajar SMA daerah kotagede lah,,yang juga tergila -gila pada CS,selama bermain,aku pura -pura melihat layar komputer
Nia,padahal dia tak sadar bahwa sesekali kulirik payudaranya yang montok itu,payudranya sungguh montok sehingga membuatku bernafsu ingin meremasnya,tapi aku berusaha menahannya.Duar...,o rangku mati ditembak oleh orang Nia karena aku memperhatikan payudara montoknya itu."Kamu baru belajar,ya?",tanya Nia yang membuatku malu dan bermain serius,tetapi ******ku dari tadi berdiri melihat payudara montoknya,kulihat sekilas di luar sedang hujan keras,kami meneruskan bermain,hingga waktu 3 jam yang kuminta habis,kulihat layar
Nia juga mati,sekarang aku dan Nia bagaikan teman akrab,kami bersama ?sama keluar,tapi hujan masih sangat keras,aku menawarkan
Nia untuk mengantarnya pulang,Nia hanya bisa menuruti penawaranku karena dia tak mungkin pulang dengan hujan masih keras begini,selama perjalanana,karena hujan,Nia memelukku dengan erat,sedangkan payudaranya yang montok itu kini melengket di punggungku,membuat adikku berdiri dengan keras,
Nia menunjuk rumahnya,dan aku segera berhenti.?
bagas,masuk dulu,yuk,hujan kan keras,nanti kamu sakit,loh.?,semula aku menolak,tapi karena Nia memaksa,aku hanya bisa mengangguk pelan,lalu aku pun masuk ke rumah Nia yang menurutku besar,Nia mengajakku ke kamarnya yang berada di lantai 2,selama perjalanan,aku berusaha melirik ke payudara montoknya yang tercetak jelas di seragamnya karena basah,payudaranya yang tertutup bh itu sungguh montok membuat adikku berdiri lebih keras,sesampainya di kamar Nia,Nia mengambilkanku sebuah handuk untuk melap rambut,semula aku menolak,tapi dia berkata ?enang aja,
Gas,itu handuk yang biasa aku pakai,kok,jadi gak usah malu,pake aja,aku ganti baju dulu di sebelah,ya??,Nia segera keluar dari kamarnya lalu ke kamar sebelahnya yang kuduga kamar orang tuanya,aku juga ikut keluar dengan berharapan dapat mengintipnya,benar saja,pintunya tak ditutup rapat,dan aku dapat melihat jelas Nia yang sedang membuka bajunya,lalu BH nya,kulihat pemandangan yang sungguh indah,payudaranya itu sungguh mempesona,aku segera membuka celanaku dan meremas ******ku sambil melihatnya,kulihat
Nia mengambil sebuah handuk dan melap payudaranya yang mungkin basah karena hujan tadi,aku sungguh ?sungguh bernafsu sekarang,ingin aku masuk dan meremas payudaranya itu, kini dia membuka rok abu ? abunya,lalu
CDnya,kulihat bulu jembutnya yang rapi itu,kini aku menggocokkan ******ku dengan cepat dan bernafsu,tapi tak sengaja tanganku terbentur ke pintu,dan terbukalah pintu itu.Nia berbalik ke arahku dengan muka terkejut,dia segera menutup kedua bagian tubuhnya,sedangkan aku karena panik lupa menutup ******ku yang berukuran besar dan mengeras itu.
Nia bertanya padaku sambil melihat ******ku dengan terkejut,?Ngapain kamu,gas??,?E,eee,e e,enggak kok,aku kebetulan lewat aja,Nia?,?Lalu kenapa anu kamu keliatan dan berdiri?
Kamu pasti ngintip aku,kan??,aku tak bisa menjawab apa- apa lagi,mukaku merah padam,aku segera mendekat untuk minta maaf,saat kudekati Nia,dia melepas bajuku yang basah,?Ntar kamu sakit,loh?,?Ehhmmm,N ia,aku mau minta ma??,belum sempat aku menyelesaikan kata- kataku,
Nia membungkuk dan mengemut ******ku dan kadang menjilatinya,sambil mendesah kecil,aku bertanya ?Nia,kamu ngapain,aaahh?,?Ya,l agi ngemutin ******kamu dong,emang ngapain??,?Jadi kamu gak marah aku ngintip kamu??,?Ya,gak apa- apa lah,aku tahu kalau dingi begini pasti kamu nafsu,aku juga nafsu,kok?.Kini hatiku betul-betul tenang,kunikmati emutan Nia sambil memejamkan mata dan tanganku memegang kepalanya.?
Ehhhmmm ,enak Nia,terusin sayag,Ahhhh?.Kini giliranku untuk menunduk,kujilati seonggok daging yang terindah yang pernah kulihat sambil tangan kiriku meremas payudara Nia yang sudah mengeras,lidahku dengan lincah menjilati lubang kenikmatan Nia itu,kulihat Nia juga tampak kenikmatan,tampak dari ekspresi wajahnya,?Ahh,nikmat banget,Gas,terus di situ,ahh,nikmat banget?,mendengar itu lidahku makin lincah menelusuri vagina Nia yang kukira masih perawan.Kini
Nia mengambil sebuah kursi,aku tahu makudnya,sebelum duduk,aku melakukan French Kiss padanya selama tiga menit,setelah itu dia mendorongku ke kursi,lalu dia naik ke pangkuanku dan melakukan ciuman French Kiss padaku sambil tanganku meremas payudaranya dan memainkan
putingnya,kulihat Nia sudah tak bisa menahan nafsunya,dia mengatakan ?Ayo,Gas,coblos burungmu di sarangnya?,aku segera menggeser ******ku agar masuk ke vagina Nia,agak sempit masuk karena dia katanya baru mL ma mantannya 5 x n baru putus 2 minggu,setelah kudorong perlahan ?lahan,akhirnya masuk juga,Ahhhhhh,Nia mengerang kesakitan karena udah lama g dicoblos kali,kedua tanganku kuletakkan di samping perut Nia dan tanganku dengan cepat menaikturunkan
tubuh Nia,?Ahhhh,enak gas,terusin gas?,?Oke,sayang?.S ungguh sensasi yang luar biasa bagiku,baru pertama kali ini kurasakan meskipun ini bukan persetubuhan yang pertama bagiku,vagina Nia yang masih sempit itu sangat nikmat sekali,bagaikan memijat ******ku,?Ahhhh?aku mendesah sambil memejamkan mata karena nikmat yang tak tertahankan.Setelah beberapa lama menaikturunkan tubuh
Nia,?Ahhhhh,gas,aku mau keluar,nih.?Nia pun mengalami orgasme pertama,?
Gas,kita ganti posisi,yuk?Nia mengajakku,?Apapun deh buat kamu?,Nia segera berdiri dan naik ke tempat tidur,?Ayo,gas,aku udah gak tahan,nih.?Akupun segera beranjak dari kursi dan segera pergi ke tempat tidur,kulihat Nia memperlihatkan pantatnya padaku yang menjadi pertanda dia ingin posisi doggystyle.Segera kutusukkan ******ku ke pantatnya yang montok itu sambil tangan kananku meremas payudaranya,?Ahhh, enak,tusukan kamu enak banget?,Aku menambah kecepatan tusukanku yang membuat Nia mendesah kesakitan campur kenikmatan,
AHH ahhhh Ahhh,terus,Gas,aku mau orgasme,Nia mengalamiorgasmenya yang kedua lagi,sedaangkan karena pejuku belum keluar,kuteruskan tusukanku hingga beberapa menit kemudian keluarlah spermaku yang kukeluarkan di mulutnya agar dia tak hamil,dia pun sehera membersihkan wajahnya dan membersihkan ******ku,.
Lalu kami saling berpelukan di tempat tidur karena kecapekan,lau setelah kejadian itu kami lebih sering bermain CS berdua,tentu saja setelah itu permainan yang lebih panas,sampai Nia menjadi TTM KUW dan kami lebih sering melakukan permainan itu.
<<<>>> PLAY VIDEO <<<>>>>
Markas Bokep KENIKMATAN BERSAMA VINA

Pengalaman ini terjadi ketika aku kelas 3 SMA.
aku memang berasal dari keturunan yang sangat disiplin dalam segala sesuatu.
Aku anak bungsu dari tiga bersaudara dan semuanya perempuan,
namun kata orang sih aku yang paling cantik dan menurut orang- orang wajahku agak mirip Desy
Ratnasari. Papa dan Mama cenderung orangnya keras dalam mendidik anak-anaknya bahkan boleh dibilang Papa itu orangnya tidak pernah menunjukkan pujian kepada anak-anaknya, jadi alhasil sampai saat ini aku tidak pernah merasakan belaian kasih sayang seorang ayah layaknya.
Saking kerasnya didikan orang tua kami, mereka menyekolahkan semua anaknya di sekolah favorit termasuk aku dan tidak mengijinkan anak- anaknya untuk pacaran sebelum lulus SMA dan waktu itu aku terpaksa menurut walaupun dalam hati kecilku aku berontak karena di sekolah banyak sekali cowok keren yang cukup menarik perhatianku dan cukup banyak pula cowok yang mendekatiku lantaran wajahku yang lumayan. Namun semuanya terpaksa aku tolak dan hasratkupun aku pendam dalam-dalam demi menyenangkan kedua orang tuaku.
Terus terang saat aku sendiri aku sering membayangkan bisa merasakan nikmatnya berciuman dan juga ingin merasakan ada tangan yang membelai rambutku, menjilati sekujur tubuhku (seperti yang aku lihat di blue film ketika aku SMP), juga ingin merasakan ada penis ukuran besar memasuki vaginaku, sehingga akupun sering bermasturbasi di kamarku.
Suatu hari di sekolah (entah kapan persisnya), saat di kelasku ada pelajaran Tata Negara yang menurutku cukup membosankan, namun aku suka pelajaran itu karena Bapak Gunawan yang mengajar kunilai cukup simpatik dan tampan walaupun usianya pantas menjadi bapakku. Beliau usianya mendekati 45 tahun, selalu bercukur, agak gemuk dan aku suka memperhatikan rambut di dadanya yang agak tersembul saat dia mengajar. Saat itu aku memperhatikan penampilannya agak lain dari biasanya, beliau saat itu mengenakan pakaian batik berwarna biru gelap dipadu dengan celana panjang berwarna agak hitam. Aku sangat terpesona sehingga aku membayangkan dapat bercinta dengannya, dan tak kusadari vaginaku telah basah.
"Vina!", tegurnya melihatku tidak konsentrasi.
"Eh.. i.. iya Pak", sahutku sekenanya.
"Tolong perhatikan", timpalnya.
"Baik Pak" jawabku.
Sialan makiku dalam hati apes banget aku apalagi ditambah dengan ledakan tawa seisi kelas yang membuatku sangat kesal. Akhirnya kuikuti terus pelajaran dengan hati tidak menentu.
Seusai sekolah, aku langsung berlari menuju mobilku yang kubawa sendiri dan kuparkir dekat halaman sekolah, aku berniat langsung pulang mengerjakan PR- ku yang seabreg.
Namun sesuatu menghambat niatku saat aku melihat Bpk. Gunawan sedang menunggu kendaraan umum di dekat sekolah, langsung kuhampiri dia dan kubuka kaca jendela mobilku.
"Pak!", tegurku.
"Eh, Vina", sahutnya.
"Pulang ke arah mana, Pak?", tanyaku.
"Kebayoran Baru", jawabnya.
"Wah, searah dong", timpalku.
"Ikut sekalian Pak", kataku sambil membuka pintu mobil dari dalam.
"Enggak merepotkan?", tanyanya.
"Tidak apa-apa", jawabku.
"Baiklah", jawabnya seraya naik ke mobilku.
Sepanjang perjalanan kami banyak berbicara tentang banyak hal, dan ternyata beliau cukup menyenangkan, ternyata beliau memperhatikanku cukup lama ini kuperhatikan lewat ekor mataku sesekali, dan tiba-tiba dia menyentuh tanganku.
"Maaf", katanya.
"Tidak apa-apa kok Pak", sahutku, aku senang juga dalam hati.
Lalu secara tidak sengaja kulirik dia dan astaga!, ternyata celana bagian depannya ada tonjolan.
Ketika sampai di rumahnya, dia menawarkan masuk dan langsung kusetujui. Rumahnya cukup sederhana namun rapi, sesudah aku masuk beliau bercerita tentang dirinya lebih banyak bahwa dia sampai saat ini masih belum menikah, mendengar ceritanya aku semakin simpatik dan semakin membayangkan bisa bercinta dengannya. Akhirnya kami saling berpandangan tanpa berkata apapun, dan tangan beliau secara spontan membelai rambutku, lalu perlahan dia menciumku, "Oooh nikmat rasanya", dan segera kubalas ciumannya dengan hangat. Ternyata beliau bisa membaca situasi dan langsung tangannya menggerayangi sekujur tubuhku sehingga membuatku menggelinjang kenikmatan.
Selang beberapa lama, dia menuntunku masuk kamarnya dan aku menurut saja, ketika kami masuk ke kamar dia langsung mengunci pintunya dan memulai kembali aksinya, dengan napasnya yang memburu dia menciumiku dan tentu saja kubalas kembali dengan tak kalah memburunya. Perlahan-lahan dia melepaskan baju seragam sekolahku, dan rokku. Praktis kini hanya behaku dan celana dalamku yang tinggal.
"Kamu cantik sekali, Vin", katanya, aku hanya tersenyum mendengarnya karena aku ingin dia berbuat lebih dari itu, dan diapun ternyata memahaminya, dengan cepat dia melucuti beha dan celana dalamku sehingga aku telanjang bulat di depannya. Lalu gantian dia yang melepaskan seluruh bajunya. Saat semua bajunya terlepas, aku agak sedikit memiawik melihat penisnya yang telah tegang dan besarnya sekitar 24 cm dengan diameter kira- kira 4 cm, namun aku juga kagum melihatnya.
Tanpa basa-basi dia langsung menidurkanku di tempat tidur dan membuka kakiku lebar- lebar sehingga kewanitaanku dapat terlihat jelas olehnya, kemudian dengan tidak membuang waktu lagi dia mulai membenamkan kepalanya disana dan mulai mempermainkan lidahnya sehingga aku menjerit-jerit kecil menahan kenikmatan. "Ehm.. ahh.. ahh..", hanya itu yang bisa kuucapkan, sampai beberapa waktu lamanya aku merasakan puncak kenikmatan dan menjerit-jerit, "Oh.. ahh.. aaah.. Pak.. ohh.. nikmat.. ooooh.." Dan spontan aku menjambak rambutnya tanpa mempedulikan lagi status antara kami.
Lalu dia bangkit dan secara cepat penisnya sudah ada di depan mukaku, aku paham maksudnya langsung kujilati penisnya perlahan-lahan kumainkan dengan lidahku dan aku dapat mendengar rintihannya menahan nikmat. Lalu kumasukkan penisnya ke dalam mulutku, sudah kuduga aku tak dapat melahap seluruhnya, hanya setengahnya yang masuk ke mulutku. Kulakukan gerakan maju mundur dengan kepalaku membuatnya semakin merintih kenikmatan. Harus kuakui aku juga menikmati permainan ini apalagi saat kurasakan penisnya berdenyut dalam mulutku, rasanya tak ingin kuakhiri permainan ini.
Tiba-tiba dia menarikku ke atas dan langsung dia menidurkanku kembali, kakiku kembali dibuka lebar-lebar dan dia mempermaikan klitku dengan penisnya yang membuatku semakin tak karuan sehingga tak berapa lama aku kembali mencapai puncak kenikmatan dan cairan kewanitaanku membasahi penisnya. Lalu tiba-tiba dengan satu gerakan cepat dia memasukkan penisnya ke dalam vaginaku, aku langsung menjerit karena vaginaku masih sempit dan aku masih perawan, sehingga kurasakan agak sedikit perih. Namun rupanya beliau telah tahu keadaanku sehingga dia diam sebentar agar aku dapat menguasai diri.
Setelah aku dapat menguasai diri beliau langsung menggerakkan pinggulnya perlahan- lahan dan makin lama makin cepat sehingga tubuhku terguncang- guncang. Setelah kira- kira 2 jam kami berpacu dalam birahi, aku merasakan orgasme kurang lebih sebanyak 5 kali sampai terakhir kurasakan beliau ingin mencapai puncak dia mengejang dan menjerit tertahan lalu kurasakan cairan hangat menyemprot dinding vaginaku.
Setelah semuanya selesai, aku pun berpamitan dengannya dan berjanji untuk melakukannya kembali
malam minggu nanti.
<<<>>> PLAY VIDEO <<<>>>
Jumat, 05 Mei 2017
Markas bokep TANTE VIDA YANG SINTAL

Nama saya Dodi.
Sekarang saya masih kuliah di Universitas
dan Fakultas paling favorit di Yogyakarta.
Saya ingin menceritakan pengalaman saya pertama kali berkenalan dengan permainan seks yang mungkin membuat saya sekarang haus akan seks.
Waktu itu saya masih sekolah di salah satu SMP favorit di Yogyakarta. Hari itu saya sakit sehingga saya tidak bisa berangkat sekolah, setelah surat ijin saya titipkan ke teman terus saya pulang. Ketika sampai di rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor dan Mama pesan supaya saya istirahat saja di rumah dan Mama sudah memanggil Tante Vida untuk menjaga saya. Tante Vida waktu itu masih sekolah di sekolah perawat. Sehabis minum obat, mata saya terasa mengantuk. Ketika mau terlelap
Tante Vida mengetuk kamarku.
Dia bilang, "Dod, sudah tidur?"
Saya jawab dari dalam, "Belum, tante!"
Tante Vida bertanya, "Kalau belum boleh tante masuk."
Terus saya bukakan pintu, waktu itu saya sempat kaget juga melihat Tante Vida. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante
Vida dengan pakaian gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang, "Dod, kamu mau saya ajari permainan nggak Dod?" Tanpa pikir panjang, saya jawab, "Mau tante, tapi permainan apa lha wong Dodi baru sakit gini kok!"
Tante Vida berkata, "Namanya permainan kenikmatan, tapi mainnya harus di kamar mandi. Yuk" Sambil Tante Vida menggandeng tanganku masuk ke kamar mandi saya. Saya sih mau-mau saja. Kemudian mulai dia melorotkan celana saya sambil berkata, "Wah, burungmu untuk anak SMP tergolong besar Dod." Tante Vida terkagum-kagum. Waktu itu saya cuma cengengesan saja, lha wong hati saya deg- degan sekali waktu itu.
Terus dia mulai membasahi kemaluan saya dengan air, kemudian dia beri shampo, terus digosok.
Lama-lama saya merasa kemaluan saya semakin lama semakin keras. Setelah terasa kemudian dia melucuti pakaiannya satu demi satu. Ya, tuhan ternyata tubuhnya sintal banget. Payudaranya yang montok, dengan pentil yang tegang, pantat yang berisi dan sintal kemudian vaginanya yang merah muda dengan rambut kemaluan yang lebat. Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia mengulum penis saya, dadanya yang montok ikut bergoyang.
Dada dan nafasku semakin memburu. Saya cuma bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya yang namanya permainan seks. Kemudian, saya nggak tahu tiba-tiba saja naluri saya bergerak. Tangan saya mulai meremas- remas dadanya, sementara tangan saya yang satu turun mencari liang vaginanya. Kemudian saya masukkkan jari saya, dia meritih,
"Akhh, Dodi!" Saya semakin panas, saya kulum bibirnya yang ranum, saya nggak peduli lagi. Setelah bibir, kemudian turun saya ciumi leher dan akhir saya kulum punting susunya. Dia semakin merintih,
"Aakhh, Dodi terus Dod!" Saya nggak tahu berapa lama kami di kamar mandi, terus tahu- tahu dia sudah di atas saya. "Dodi sekarang tante kasih akhir permaianan yang manis, ya?" Dia meraih kemaluan saya yang sudah tegang sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya.
Kami berdua sama-sama merintih, "Akhh! Lagi tante... lagi tanteee." Terus dia mulai naik turun, sampai saya merasa ada yang meletus dari penis saya dan kami sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi bersama-sama. Waktu mandi pun kami sempat mengulangi beberapa kali.
Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi "*********" atau mungkin
Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan- kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida.
>>><<< PLAY VIDEO >>><<<
Markas Bokep Tatapan Mata Ibu Mia

Nama saya Red.
Umur 24 tahun, dan saat ini bekerja di negara A sebagai Creative Director dari suatu perusahaan advertising.
Kesibukan saya di kantor menghalangi keinginan saya untuk bersosialisasi secara luas, kecuali dengan teman-teman sekerja saja.
Hampir seluruh waktu saya berada di depan komputer.
Atas rekomendasi teman, saya menemukan situs sumbercerita.com ini, dan berharap dapat menjalin persahabatan dengan saudara-saudari sebangsa dari manca negara. Beberapa hari terakhir saya mengambil cuti setelah menghabiskan 5 malam non-stop bersama rekan-rekan sekerja untuk menyelesaikan suatu proyek yang amat rumit dan riskan. Waktu cuti tersebut saya habiskan untuk membereskan lemari arsip di rumah saya yang memang sangat berantakan, penuh dengan notes-notes, sketsa dan buku-buku referensi. Dari notes-notes tersebut, ternyata saya menemukan fragmen-fragmen kisah hidup saya semasa ber-SMA di kota asal saya di kota X.
Setelah menyusunnya secara kronologis (ditambah beberapa telepon SLI sana-sini) saya berhasil membuatnya dalam bentuk digital supaya dapat saya gabungkan dengan diary saya yang tersimpan di dalam laptop saya. Berikut ini beberapa di antaranya..
*****
Maret 1998..
Rugi nih bayar uang sekolah mahal-mahal.. Udah kelas di pojok gedung, dekat dengan bak pembuangan sampah sekolah lagi! Moga-moga nanti pas gua naik ke kelas 3 (kalo naek sih).. Gua dikasih kelasnya si Martin yang konon punya akses rahasia ke kamar mandi cewek! Yah kayaknya sih hari-hari kayak gini gua kudu bertabah-bertabah ria menghirup bau sampah yang nggak diangkut-diangkut..
"Eh Red.. Red! Eh udahin mikir kotornya.. Elu jadi ikut ngga seh?" temen gua si jelek Aldo bisik-bisik dari belakang. Maklumlah, pelajarannya Ibu Mia siapa sih yang berani ribut.. Kecuali kalo mau nilai Bahasa Indonesia merah di raport.
"Diem lu Jelek.. Elu sih nularin pikiran kotor dari belakang.. Emang jadi nonton di mana?", balas gua selagi Ibu Mia 'lengah' ke papan tulis.
"Saya tidak mau dengar ada yang bisik-bisik ya!", suara ketus Ibu Mia menggelegar di kelas.
Untung dia tetap terpaku menulis di papan.. Sebel abis gua liat tampangnya yang judes gitu.. Apalagi dengan kacamata aneh yang segede pantat Teh Botol.. Amiitt.. PLOK! Segumpal kertas kecil meloncat di depan gua, isinya singkat, "Bioskop Y, 4 sore". Gua ngasih tanda oke ke si Jelek, yang dia balas dengan menendang bangku gua.. Sayangnya, terlalu keras, BRAK! Langsung deh si 'Teh Botol' judes berbalik dan melangkah cepat ke sumber suara.
"Sudah saya duga.. Kalau bukan kalian berempat, pasti gang-nya Katrina di sebelah sana.. Siapa yang tadi tendang meja?," sambarnya dengan pedas.
"Eh.. Itu bangku yang kena, bukan meja.. Bu," kata gua dengan polos.. Ngga tau kenapa tau-tau bisa bilang begituan.
"Kamu berempat nanti ketemu saya selesai pelajaran," jawabnya dengan dingin, lalu berjalan kembali meneruskan pelajaran.
Hii..
*Notes: Saya berempat, plus si Jelek Aldo, Rio KBHRX (alias Ksatria Baja Hitam RX), dan Didi Duku memang teman akrab banget waktu itu.. Kita bukannya trouble maker sih.. Cuman aja untuk ukuran anak-anak Biologi, kita termasuk yang kurang bisa diam tenang di kelas.*
Rio langsung berbisik, "Goblok lu Lek! Nendang si Teh Botol kek sekalian, gua jadi kena juga.."
"Maunya sih, tapi gua takut..", bisik si Jelek lebih pelan.
"Takut apa sama dia?", bisik Duku yang di sebelah gua.
"Cakut dipelkoca," bisik si Jelek dengan nada cempreng.
Langsung kita cekikikan berempat. Yang jelas membuat situasi menjadi tambah runyam. Lima menit kemudian, gua, Rio dan Didi duduk terdiam di luar ruang guru.. Menantikan vonis buat si Jelek. Konon kita masing-masing akan mendapat vonis yang berbeda. Setengah jam berlalu tanpa kabar. Beberapa guru yang lewat sekali-sekali menanyakan kabar kita, kenapa kita ada di sana, bla bla bla. Biasa deh kalo udah gitu guru-guru yang laen jadi ngerasa sok ngehakimin.
Omong-omong di antara anak-anak emang udah ada rumor kalo si Teh Botol sering menahan anak-anak lebih lama dari biasanya.. Cowo ato cewe sama aja. Kalo yang cowo konon disuruh milih: 'disunat' atau kasih dia sun, sementara yang cewe disuruh tari perutlah, bugil-lah dsb. Emang sih cuman joke doang.. Tapi mengingat si Jelek udah lebih dari 30 menit di dalam sana, kita jadi mikir jangan-jangan dia nolak nge-sun si Teh Botol mentah-mentah.. Yaiks. Padahal dipikir-dipikir sebenarnya Ibu Mia masih muda.. Paling sekitar 25-an deh. Selesai lulus kuliah langsung ngajar kali..
Buset kalo udah tua kayak apa tuh si Teh Botol. Moga-Moga ngga jadi botol Aqua.
"Suhardi, giliran kamu!" Tanpa gua sadar Didi sudah melangkah ke dalam, sementara si Jelek terdiam di hadapan kita berdua.
"Kenapa lu Jelek? Tambah jelek aja tuh muka..," cerocos Rio.
"Koq lama sih?" Jelek terdiam, dari tatapannya kita bisa liat kalo dia terlihat sangat tertekan.
"Nontonnya batal," kata si Jelek yang langsung melangkah pergi. Gua langsung ngejar.
"Eh gila.. Kenapa lu?" Gua cengkram tangannya..
Kita emang udah biasa kayak gitu. Tiba-Tiba si Jelek berputar cepat, dan tanpa gua sadar muka gua udah kena sabit tinjunya-BSET! - untung lolos, tapi gua hilang keseimbangan dan jatuh ke lantai.
"Hey kenapa lu Lek!!," gua berdiri balik..
Kurang ajar nih anak. Kalo bukan temen baek udah gua abisin di tempat. Rio menahan gua dari belakang, sambil memberikan tanda buat si Jelek supaya pergi aja.
"Biarin dia, Beh," bisiknya setelah kita kembali duduk.
*Beh itu panggilan gua, dari Babeh - karena waktu itu gua maen drama jadi bapak-bapak yang kuper abis.*
"Kena sunat kali," bales gua masih ketus.
Pipi gua sih ngga sakit, tapi temen baek gua sendiri asal nabok kayak gitu.. Enak aja! Ngga lama kemudian, Didi keluar dengan tersenyum..
"Tuh kan.. Gua bilang juga gua ngga salah apa-apa.. Mati lu nanti Beh!"
Gua cengar cengir doang sambil bilang, "Eh Duku elu tungguin gua ya?"
"Wah sorry Beh ngga bisa nih gua harus jemput adek gua di lantai dasar.. Nanti kan masih nonton? Si Jelek Aldo mana?"
Singkat cerita.. Rio juga lolos.. Tinggal gua yang sekarang duduk terdiam di depan Ibu Mia.
"Kamu tahu apa kesalahan kamu, Red?" matanya menatap tajam.
"Iya Bu, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud untuk.."
"Saya ngga minta kamu minta maaf! Saya tanya, kamu tahu tidak kesalahan kamu apa?"
"Mengganggu kegiatan belajar mengajar, Bu," jawab gua dengan klise.
Ibu Mia lalu meletakkan kacamata Teh Botol-nya. Gua masih menunduk (biar dikasihanin), tapi dari pantulan kaca meja gua ngeliat sesuatu yang ganjil. Beliau lalu berdiri dan bertolak pinggang. Dari pantulan kaca mata gua sadar ternyata baju yang dia kenakan berbeda dengan yang dipakai waktu mengajar sebelumnya. Gaya banget nih guru.. Selesai ngajar langsung ganti baju.. Ngga repot apa?
"Saya sangat kecewa dengan kalian berempat. Nilai pas-pasan, di kelas tidak ada perhatian.. Apalagi kamu. Di kelas kerjaannya corat coret gambar-gambar yang jelas-jelas tidak membangun..! Apa pantas saya lalu membiarkan keserampangan seperti ini?"
Pelan-Pelan gua melihat ke arah Ibu Mia. Wah gila gua langsung shock liat wajahnya tanpa kacamata aneh begitu.. Soalnya.. Cantik dan manis sekali. Ternyata kacamata sialan itu bikin bagian matanya jadi tidak proporsional sehingga terlihat aneh. Tapi sekarang.. Gila gua kayak ketemu orang laen aja..
Tubuhnya pun ternyata ngga jelek-jelek amat.. Memang sih Ibu Mia tergolong pendek.. Tapi makin gua liatin badannya yang kecil itu ternyata seksi sekali. Pinggangnya ramping, mungil dan pinggulnya juga berisi.. Hmm kayaknya lepas Teh Botol yang di muka, langsung kelihatan deh Teh Botol yang di badan. Gua sampe ngga sadar kejap-kejap sendiri.. Kirain gua ketiduran.
"RED! Kenapa kamu kejap-kejap seperti itu?", sentak Ibu Mia dengan kasar. Ternyata bukan mimpi!
"Oh ngga Bu.. Mata saya memang lagi perih..", kata gua dengan gugup, sambil ngucek-ngucek mata.
Koq jadi gua yang salah tingkah gini?
"Saya khawatir saya akan sulit meluluskan siswa dengan sikap seperti kamu, Red..", Ibu Mia meneruskan dengan dingin.
"Nilai-nilai kamu juga termasuk yang terburuk di kelas.. Selain si.. Siapa itu yang kemarin kakaknya kecelakaan?"
"Eh.. Mm.. Diane ya?", jawab gua.
"Iya.. Diane.. Tapi mungkin dia bisa saya bantu karena dia juga mengalami beberapa musibah sebelumnya.. Tapi kamu.."
"Wah.."
Gua mulai ketakutan juga. Bisa mati nih kalo ngga naek kelas!
"Saya tidak yakin dengan kamu, Red. Akan sangat sulit sekali.."
"Masa Ibu ngga bisa kasih keringanan.. Misalnya membuat tugas tambahan.. Atau apa deh.. Saya akan berusaha..", gua memelas.
Ibu Mia terdiam.. Pandangan dan ekspresinya bener-bener bikin gua beku. Nekat juga gua bisa melas-melas sama dia. Perlahan kemudian Ibu Mia berjalan menjauh, lalu duduk di sofa yang terletak di ujung ruangan. Matanya tetap ngeliatin gua. Gila nih kalo gua ngga naek, Om John bisa batal deh ngirim gua belajar ke negara A! Si Jelek bangsat.. Udah bikin masalah, pake nabok gua segala lagi!
"Red.." Ibu Mia memanggil.. Tiba-tiba nada suaranya berubah.
"Eh iya Bu?" Gua bertanya tak pasti.
"Kemarilah.. Ibu rasa Ibu tahu apa yang kamu bisa lakukan."
Nada suaranya kini lebih netral dan lembut. Gua makin bergidik. Jangan-Jangan rumor-rumor itu bener. Perlahan-Perlahan gua berjalan mendekati Ibu Mia. Beliau duduk dengan menyilangkan kakinya.. Lumayan anggun juga ternyata si Teh Botol. Di depannya gua berdiam diri.. Ngga tau bisa ngarepin apa.
"Iya Bu?" Tanya gua sambil tersenyum pahit. Pasti muka gua ngga karuan nih bentuknya.
"Kamu.. Kamu sudah pernah bersenggama?" GLEK. Gua terbisu.. Kalo ini mimpi, dari mana mulainya? Mungkin gua salah denger.
"Maaf Bu?" Gua bales, berharap pertanyaan yang berbeda muncul.
"Ibu tanya apa kamu sudah pernah bersenggama?" GLEK. Ini beneran.
"Eh.. Saya.."
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau bilang.. Ibu hanya ingin tahu saja.." Gua terdiam kayak patung.
"Hanya saja Ibu ada feeling.. Anak muda segagah kamu.. Ibu bisa lihat kalo di sekolah tidak sedikit gadis-gadis yang melirik ke arah kamu kalau kamu sedang lewat.." Makasih deh Bu, pikir gua, tapi kenapa tiba-tiba suasananya berubah? Selama semenit.. Mungkin lebih kita terdiam.. Gua jadi bener-bener kikuk..
"Bu..", gua memecah kesunyian.
Tiba-Tiba gua terpikir sesuatu. Ibu Mia hanya ngeliat gua lebih dalam. Sepasang mata itu mendadak jadi indah banget.
"Iya.. Saya pernah.. Beberapa kali.. Cuman main-main doang..", aku sambil mengingat beberapa insiden yang lampau.
Ibu Mia tersenyum.. Gila ngga pernah gua liat dia senyum.. Ternyata seperti ini toh.. Wah kalo dia udah tidur sama siapa aja di sekolah ini? Tiba-Tiba di celana gua, gua baru sadar kalo 'sang adik' sudah bangun dari tadi.. Entah kenapa situasi seperti ini bikin gua jadi terangsang banget. Senyum Ibu Mia semakin misterius.
"Mendekatlah kemari, Red", katanya dengan lembut.
Gua mendekat.. Sekarang pinggul gua udah sejajar dengan kepalanya..'sang adik' yang terbangun tidak mungkin tersembunyi lagi.
"Udah bangun ya..," kata Ibu Mia.
"Coba buka.. Ibu mau lihat."
Dengan agak canggung gua buka celana gua, gua biarin jatoh ke bawah. 'Sang adik' kini terlihat berdiri dengan segar dan lumayan keras.. Gila nih.. Si Ibu mendadak kelihatan bergairah sekali, pikir gua.
"Ohh.. Lumayan besar juga ya.. Apa bisa lebih besar lagi..?"
Belum gua sempat berpikir, tiba-tiba Ibu Mia dengan lembut melekatkan bibirnya di batang penis gua. Langsung gua mengejang seperti disengat listrik.. Kaget banget sih..
"Huyss.. Tenang ya Red.. Ibu bakalan sangat lembut koq", beliau tersenyum halus.
"I.. Iya Bu.. Ehh..", jawab gua..
Ngga tau harus seneng atau sedih. Ibu Mia lalu meneruskan mengecupi batang penis gua, mulai dari dekat zakar sampai ke dekat kepala.. Diiringin dengan suara desahan yang bikin penis gua langsung keras dan tegang. Perlahan-Perlahan jemari-jemarinya mulai memainkan zakar gua dan meremas-meremas pantat gua. Mulutnya pun mulai berpindah ke kepala penis gua, dengan lembut dihisapnya pelan-pelan.. Masuk.. Keluar.. Masuk.. Keluar.. Sambil menjilat-menjilatkan lidahnya ke bagian yang mulai membasah tersebut.
"Mgghh.. Mgghh.. Mgghh.."
Saking terangsangnya, gua secara naluriah memegangi kepala Ibu Mia dan meremas-meremas rambutnya dengan gemas.. Beliau nampak cuek dan kelihatannya sih emang udah keasyikan dengan urusannya sendiri. Ibu Mia semakin bergairah menjilati dan meremasi penis gua.. Sampai-sampai gua ngga tau penis gua basah karena air ludahnya atau sperma pre-ejakulasi gua yang udah keluar sedikit-sedikit. Sebentar kemudian.. Gua udah bener-bener terangsang.. Rasanya gua ngga sabar giliran gua buat bikin basah vagina beliau dan muncrat di dalamnya sekalian.. Tapi kali ini gua tahan-tahan pingin melihat apa yang terjadi berikutnya..
*****
Sekelebat gua teringat pengalaman gua dengan Joanna, dari jurusan sosial. Waktu itu dia cuman kocok-kocok penis gua dengan tangannya sambil menempelkan badannya yang hangat itu dan ngegosok-ngegosokin buah dadanya ke badan gua. Kita masih separuh berpakaian seragam di toilet sekolah yang memang lagi sepi banget. Waktu itu gua ngga sabaran.. Langsung deh gua perosotin rok dan celana dalamnya. Emang sih vaginanya Joanna udah agak basah.. Jadi gua cuman main-mainin dikit sama tangan gua.. Tangan gua yang satu lagi langsung main-mainin puting-puting buah dadanya.
Tiba-Tiba gua gerakin penis gua ke arah pinggulnya dan biarin penis gua masuk ke vaginanya yang udah basah. Akhirnya gua mangku Joanna sambil berdiri, sementara dia numpuin sebelah kaki ke wastafel. Untungnya dia udah basah banget, jadinya ngga gitu kerasa sakit buat 'saat pertama'nya.
Tapi yang jelas dia menggeliat kiri kanan saking terangsangnya. Setelah beberapa kocokan, dia langsung orgasme sambil memeluk gua eratt banget.. Guanya sendiri belon, jadi gua keluarin aja tuh penis dan gua muncratin semuanya di wastafel.. Tapi itulah jadinya, karena terburu-terburu.. Selesainya jadi ngga enak..
*****
"Red.. Red! Koq mukanya jadi menerawang seperti itu?!", suara Ibu Mia kini menghentak gua dengan lembut.
Tiba-Tiba ia berhenti dan mundur ke sofanya.. Tubuhnya kini berkeringat.. Dan ternyata baju 'baru'nya itu cukup tipis sampe-sampe keringatnya itu membuat bagian dalam tubuhnya terlihat..
"Red.. Kamu.. Kamu bisa tahan lama ya sama Ibu..", kata Ibu Mia sambil tersenyum.
"Aldo saja baru bentar udah muncrat ke baju Ibu.."
YA AMPUN.. Ternyata.. Pantesan si Jelek mukanya kusut gitu..!! Rupanya Ibu Mia berganti baju sebelum si Jelek keluar.. Gua jadi cekikikan sendiri.. Gua bales lu nanti Lek..!
"Eh Bu.. Kalo Rio dan Didi.. Mereka..", mendadak gua teringat dua sobat gua yang laen.
"Mereka tidak Ibu apa-apakan," katanya sambil tertawa ringan.
"Mereka sial bertemu dengan Ibu Mia yang galak."
Gua nyengir sambil pelan-pelan gua deketin Ibu Mia. Ibu Mia tampak terdiam pasrah dan meringankan ekspresi tubuhnya. Perlahan-Perlahan gua lepasin blus atasnya, lalu BH pinknya.. Ternyata buah dadanya juga indah, kedua putingnya mengeras.. Pasti Ibu Mia sudah benar-benar hot. Terus gua lingkerin tangan gua di pinggangnya, lalu dengan pelan-pelan gua buka rok panjangnya..
Gua berusaha sesantai mungkin sambil meletakkan pakaian Ibu Mia di sofa.. Soalnya gua sendiri tegang banget.. Deg-degan gitu. Sementara penis gua udah tegang setegang-setegangnya.. Gua sengaja bersabar sambil menanti respon dari Ibu Mia.. Ibu Mia lalu mendorong gua dengan perlahan supaya gua berlutut di lantai.
"Sekarang giliran kamu, Red.. Sebelumnya belum pernah ada yang boleh seperti ini kecuali suami Ibu.. Tapi kamu spesial..", kembali senyuman lembut itu menghiasi wajahnya.
SUAMI? Wah.. Pikir gua.. Ternyata serem-serem ini Ibu ngga beres juga nih.. Ah tapi cuek aja lah, pikir gua sambil berharap-berharap kalo moga-moga ngga ada yang nyelonos masuk ke ruang yang terletak di ujung gang tersebut. Sambil masih dalam posisi berlutut, gua mendekatkan pinggul Ibu
Mia ke kepala gua. Bener juga.. Vaginanya udah basah, bahkan sedikit cairan mulai mengalir di pangkal pahanya.. Mungkin dia sudah orgasme sewaktu menghisap penis gua, gua pikir.
Gua mulai dengan mengecup-mengecup kemaluan Ibu Mia mulai dari bulu-bulu sampai ke bagian kelentitnya.. Rupanya kalo gua main perlahan dan lembut, ternyata lebih menggairahkan daripada gubrak-gabruk-an seperti dengan Joanna dulu.. Lalu gua mulai melumat-melumat daging imut yang mulai menyembul di kemaluan beliau.. Ibu Mia langsung mendesah sambil menjambak-menjambak rambut gua..
"Ohh Redd.. Ahh.. Ahh.. Hh.. Terusinn.. Aahh.."
Makin lama gua udah makin lupa diri.. Gila.. Bisa-bisa gua muncrat duluan nih.. Suara Ibu Mia bener-bener bikin kesabaran gua serasa di ujung tebing.. Ibu Mia sendiri kelihatannya udah siap, soalnya cairan dari vaginanya semakin deras.. Rasanya bener-bener aneh, buat gua sendiri ini baru kedua kalinya gua ngerasain cairan kayak beginian.
Lagi-Lagi pikiran gua menerawang (sambil dengan hotnya masih melumat) waktu gua pertama kali mencium dan melumati kemaluan seorang wanita, yaitu milik Deasy sepupu jauh gua yang umurnya sekitar 2 tahun lebih tua. Kita waktu itu bertemu waktu pernikahannya Om John dan Tante Sarah. Awalnya sih cuman bincang-bincang kecil doang tapi..
"Ohh Red..", desah Ibu Mia agak keras, menghancurkan nostalgia gua.. Muka Ibu Mia sudah merah dan berpeluh keringat.
"Iya Bu?", dengan sok polosnya gua menjawab.
Ibu Mia lalu mundur perlahan dan kembali duduk di atas sofa, kali ini beliau sengaja duduk di atas tumpukan baju yang gua taruh di sana sebelumnya.. Mungkin supaya cairan segar dari dalam vaginanya itu tidak mengotori sofa, pikir gua. Sejenak kita berdua bertatapan.. Ibu Mia duduk dengan kedua pahanya sedikit mengangkang, tampak beliau pasrah saja memamerkan liang kemaluannya yang telah membesar dan amat basah itu. Sementara gua perlahan berdiri, juga memamerkan penis gua yang udah full tegang dan memanas..
"Red..", bisik Ibu Mia, sambil tersenyum mesra.
"Tolong kuncikan pintu, Ibu lupa.. Hehehe.."
Gua nyengir sambil segera berjalan berbalik ke arah pintu. Pintu masuk ruangan tersebut memang agak terhalang dari sofa oleh sebuah lemari arsip yang cukup besar. Tapi gua emang pernah baca kalo privacy buat cewe itu penting sekali buat bikin dia makin pe-de dalam bercinta. Waktu gua ngelangkah ke deket pintu, gua shock berat karena ada sesosok wajah menyembul di pintu tersebut..
Rupanya pintu itu sedikit terbuka. Si pemilik wajah juga terlihat sama shocknya. Ternyata seorang cewe manis berpakaian SMA, tapi warna roknya berbeda.. Berarti dia dari sekolah lain.
Cewe itu menatap gua sejenak, lalu sekejap melirik ke penis gua yang memang lagi ngeceng banget. Wajahnya sangat manis dan agak kekanak-kekanakan, tetapi saat ini kepucatannya memendungi kecantikannya. Perlahan cewe tersebut mundur dan menghilang, sambil sekilas ia memberikan tatapan memelas sama gua.. Seolah-seolah ia berkata, "Ampuni saya Bang, jangan apa-apakan saya!". Dengan cepat gua menutup dan mengunci pintu, lalu segera melangkah kembali ke arah Ibu Mia.
"Kenapa, Red? Koq wajah kamu seperti sehabis melihat hantu?", kata Ibu Mia.
Iya, Bu. Hantu cantik, kata gua dalam hati. Oh, untunglah, kayaknya dia ngga tau, pikir gua. Mungkin terhalang oleh lemari arsip itu.
"Eh.. Ngga Bu.. Saya.. Eh.. Ibu seksi sekali.. Eh.. Muka saya emang kayak gini kalo liat cewe seksi..", kibul gua dengan ekspresi yang so pasti ngga ketulungan jeleknya.
Ibu Mia tertawa kecil lalu beliau mulai rebahan di atas sofa.. Pinggulnya masih diletakkan di atas tumpukan baju-bajunya. Kemudian beliau menyamping, perlahan menghadap ke arah gua.. Tubuhnya yang mungil seksi itu kini nampak begitu sensual. Lalu Ibu Mia mengangkangkan kedua pahanya, sambil dengan lembut memutar-memutarkan pinggulnya ke arah gua. Salah satu tangan beliau juga mengusap-mengusap vaginanya naik turun.
"Ayo Red.. Ibu sudah siap..", kata Ibu Mia dengan halus. Gua berjalan mendekati Ibu Mia.
"Akhirnya..", kata gua dalam hati.
Dudukan sofa di ruang tersebut memang cukup panjang sehingga cukup buat gua juga ikutan berlutut di atas sofa. Perlahan gua dekatin penis gua ke arah vagina Ibu Mia. Begitu bersentuhan, Ibu Mia tampak menarik napas pendek lalu mendesah lembut.
"Ahh.."
Lalu gua mulai deh menggenjot Ibu Mia dengan perlahan-perlahan berusaha serelax mungkin. Karena vaginanya udah cukup basah dan terbuka, gua masuk dengan lumayan gampang. Sekejap kemudian gua sudah mengocok-mengocok penis gua di dalam vagina Ibu Mia. Beliau pun mengikuti dengan menggoyang-menggoyangkan pinggulnya sesuai dengan irama genjotan gua.
"Ohh! Aghh.. Ohh Red.. Ohh.. Ohh.. Hhghh.. Hgghh..", desah Ibu Mia dengan seksi, menambah panas nafsu gua.
"Ohh Ibu.. Hhgghh..", tak sadar gua juga ikutan mendesah.
Nggak nyangka dia udah bersuami, vaginanya ngga kalah rapet dan kencang dengan yang punya Joanna atau Deasy. Keringat kita berdua sudah berpeluh sekujur badan, sementara gerakan-gerakan sensual menjadi semakin cepat dan makin berirama. Buah dada Ibu Mia yang walaupun sudah sangat kencang juga ikutan bergoyang seirama dengan gerakan kita. Gua lalu memiringkan badan gua ke depan sedikit supaya tangan kanan gua bisa meremas-meremas payudaranya yang menantang itu. Sambil menggenjot Ibu Mia, gua juga muter-muterin putingnya bergantian kiri kanan.
"Aahh.. Redd.. Kamu nakall.. Ohh.. Ohhgghh..", desah Ibu Mia semakin keras.
Sekelibat gua melirik ke arah pintu dan jendela, berharap tidak ada yang melihat.. Hmh, kecuali si cewe 'cilik' itu. Setelah beberapa lama gua udah ngga kuat lagi.. Gila vagina serapet ini gua bisa muncrat bentar lagi. Tapi gua paksain sampe Ibu Mia orgasme duluan.
"Ohh Redd.. Ibu sudah hampir.. Oohh oohh ohh.. Ahh ahh.. Hgghh..," nafas dan desah Ibu Mia semakin memburu dan gerakannya pun mulai sedikit menghentak.. Sebentar lagi, pikir gua..
"Red.. Tolong.. Hh.. Hh.. Jangann dikeluarin di dalam, ya..? Ohh ohh", pinta Ibu Mia tanpa melihat ke arah gua.
"Hh.. Hh.. Beres Bu", kata gua sambil mendesah-mendesah juga..
Gila apa, belon saatnya gua jadi Babeh beneran!
"Aahh..!", Ibu Mia pun orgasme sambil berteriak kecil dengan halusnya..
Dan dengan mata membelalak sampai tinggal putihnya saja, Pinggulnya dihentakkan sekeras mungkin, seolah-seolah beliau sedang mengeluarkan sesuatu yang amat dahsyat dari liang cintanya.
Gua bisa merasakan percikan orgasmenya membasahi penis gua yang masih asik gua goyangin di dalam. Gua sendiri udah ngga tahan.. Dengan cepat gua tarik penis gua, yang langsung gua angkat ke atas perut Ibu Mia. Splorrtt.. Clorrtt.. Splooshh.. Sperma gua keluar banyak sekali.
"Ugghh..", keluh gua sambil mengeluarkan tetes-tetes sperma gua yang terakhir..
Kontan gua berasa selesai lari marathon, bolak balik Sabang-Merauke-Sabang.. Lalu ibu Mia melumat kontol gua dengan rakusnya sampai sisa sperma bersih ditelan habis dan setelah istirahat sejenak main lagi 2 ronde dengan gaya doggy style Gua lalu merebah ke atas Ibu Mia dengan cueknya. Paling ditendang, pikir gua. Ibu Mia lalu dengan lembut merangkul gua dan mengijinkan gua melepas lelah di atas buah dadanya yang empuk itu. Bibirnya sesekali mengecup-mengecup kepala gua.
"Er.. Ibu..", gua mendekatkan diri.
"Kenapa seperti ini?" Ibu Mia menghela nafas panjang, tanpa melihat gua bisa tau kalo beliau sedang menerawang ke langit-langit ruangan.
"Ibu kesepian, Red.. Mas Hardy terlalu disibukkan oleh bermacam-bermacam pertemuan dan proyek di kantornya di luar kota.. Kami bertemu hanya seminggu 2 atau 3 kali.. Itu pun hanya sore-sore atau malam. Kesempatan kami untuk sekedar berbagi rasa saja hanya sedikit, apalagi melakukan hubungan suami-istri..," kembali Ibu Mia menghela nafas panjang, kali ini suaranya terdengar agak lebih terputus-terputus.
"Ibu.. Ibu hanya dipuaskan oleh begituan kalau dengan orang lain, Red. Mas Hardy seringkali terlalu lelah, jadi selama ini dia selalu keluar duluan.." Ibu Mia mulai menangis kecil.
Hati gua jadi ikutan iba juga.. Mungkin seharusnya gua ngga nanya aja.. Lagian buat beliau kenikmatan ini pasti cuman sepintas lalu.
"Udah deh Bu.. Ngga perlu diterusin.. Saya jadi menyesal nanya begitu sama Ibu", kata gua.
"Ngga Red, ngga apa-apa.. Selama ini pria-pria lain cenderung lebih memperdulikan 'kapan' bisa bercinta lagi dengan Ibu, daripada 'mengapa' Ibu seperti ini", balas Ibu Mia.
Hati gua jadi lumayan luluh juga.. Padahal sih gua juga mau nanya seperti itu.. Setelah pertanyaan yang pertama hi hi hi hi.. Beberapa saat kemudian, kita berpakaian dan merapihkan diri. Untung ada wastafel kecil di pojok ruangan. Ibu Mia mengenakan pakaian lain lagi.. Hebat lu, pikir gua.
Sambil keluar dari pintu, Ibu Mia tiba-tiba berkata, " Jadi jangan lupa ya Red, ringkasan artikelnya Ibu minta minggu depan.. Dan juga test ulang hari Jumat ini!"
Kembali beliau ucapkan dengan nadanya yang ketus dan dingin. Dari ekor mata gua, terlihat cewe yang tadi ngintip.. Kelihatannya dia menunggu Ibu Mia.. Wah pantesan Ibu Mia tiba-tiba ngomong gituan.. Entah beliau memang mengharapkan cewe tersebut untuk datang atau beliau ngeliat dia duluan waktu kita melangkah keluar.
"Iya Bu", jawab gua sambil menunduk, ikutan mensukseskan 'drama kecil' kami. Gua lalu cepat-cepat melangkah keluar hall.
"Oh iya Red," Ibu Mia memanggil.
"Iya Bu?"
"Ini Tasha, keponakan Ibu yang baru datang dari kota DG.. Dia akan mulai bersekolah di sekolah M mulai minggu ini.." Kami berjabatan. Tasha terlihat sangat risih dan malu-malu.
"Tasha memang pemalu Red", kata Ibu Mia berusaha meringankan suasana.
Bukan pemalu Bu, balas gua dalam hati, itu karena matanya baru terbuka pada 'realitas hidup'. Hehehe.. Jadi cekikikan sendirian. Dengan cuek gua lalu melengos keluar gedung sekolah. Sebelum pulang gua mentoleransi perut gua yang udah keruyukan di warung bakso belakang. Pikiran gua kosong, gua biarin aja melayang-melayang ke mana-mana ngga karuan..
*****
Itulah hasil rekonstruksi pengalaman saya sewaktu SMA.. Masih ada setumpuk notes-notes lain yang sedang saya compile ke dalam laptop saya saat ini. Dahulu semasa saya kecil, mendiang kakek saya pernah berkata kalau mata saya tidak boleh melihat perempuan. Saya kira beliau hanya bercanda. Dan setiap kali saya tanyakan kenapa, jawabannya pasti serupa, "Yang dilihat kamu ngga bisa lepas begitu aja.. Nanti kamunya yang susah.."
Saking seringnya saya dengar, saya jadi sebal sendiri.. Baru setelah SMA saya mengerti kira-kira apa yang beliau maksud. Papa dan Om John, adiknya, memang pernah mengatakan kalau kakek konon punya ilmu-ilmu gelap. Entah kenapa Papa dan saudara-saudaranya kelihatannya tidak ada yang mewarisinya, mungkin karena jaman yang berubah atau apalah..
Sejak saat kejadian itu ibu Mia sangat baik dan sering kali kalau ada kesempatan jam sekolah sudah usai memberi kode untuk mengulangi dimana saja baik di ruangan sekolah maupun di hotel atau di rumahnya jika memang sepi dan juga dengan Tasha suatu saat kami membuat janji, juga dengan ibu lain teman dekat ibu Mia juga yang bodynya lebih seksi lagi.
*****
E N D
Kamis, 04 Mei 2017
Markas Bokep Tante Merry, Mama Temanku

Markas Bokep
Perkenalkan namaku Jacky (teman-teman biasanya memanggilku Jack).
Umurku 29 tahun. Postur tubuhku standar bule.
Tinggi 185 cm, berat 82 kg. Wajahku biasa-biasa saja.
Sekarang aku bekerja di salah satu perusahaan garmen di Medan, bagian marketing.
Aku tinggal sendiri di sebuah tempat kost di Medan karena orangtuaku tinggal di Pematang Siantar.
Awal cerita, aku berkenalan dengan seorang cowok sebut saja Hendrik. Kebetulan Hendrik satu kantor denganku dan dia adalah manager saya. Sejak perkenalan itu, akhirnya kami semakin akrab dan akhirnya bersahabat. Itu karena kami mempunyai banyak persamaan pada diri masing-masing.
Kami suka clubbing (dugem). Setiap malam minggu kami selalu menghabiskan waktu untuk dugem bersama cewek kami masing-masing. Yah, double date begitulah. Hendrik termasuk keluarga orang berada. Itu terlihat dari rumahnya yang megah dan beberapa mobil mewah yang nongkrong di garasinya. Maklumlah, orang tuanya pengusaha furniture antik untuk dikirim keluar negeri tapi dia lebih suka bekerja di luar daripada membantu orang tuanya.
Pertama kali aku main ke rumahnya, aku dikenalkan kepada Mamanya (kebetulan waktu itu Papanya nggak ada karena pergi ke Yogya untuk mencari barang-barang antik).
"Ma, kenalin ini teman kerja Hendrik, Namanya Jack", kata Hendrik sambil memeluk pinggang Mamanya.
"Saya Jack, Tante", ujarku.
Ibunya berkata, "Merry. Panggil saja Tante Merry. Silakan duduk".
"Makasih Tante". Wow, halus banget tangannya.. Rajin pedicure nih.
Setelah aku duduk, Hendrik berkata, "Jack, kamu ngobrol dulu sama mamaku. Aku mau mandi dulu.
Gerah nih abis mancing. Kalo kamu pengen mandi juga, pake aja kamar mandi di kamarku. Aku mandi di atas. OK?"
"Gak deh, nanggung ntar juga pulang", jawabku.
Posisi dudukku dengan Mamanya berseberangan di sofa antara meja kaca. Gila!, aku nggak nyangka Mamanya sexy banget.. Sebagai gambaran buat para pembaca, umurnya kira-kira 41 tahun, wajahnya cantik keibuan, kulitnya putih bersih dengan rambut ikal sebahu, postur tubuhnya ideal tidak terlalu gemuk. Ukuran payudaranya kira-kira 36B, bentuknya bulat pula. Enak banget nih kalo diisep, pikirku.
Memecah sepi, iseng-iseng aku bertanya, "Oom kemana Tante?", padahal aku sudah tahu dari Hendrik kalau Papanya sedang ke Yogya.
"Kebetulan Oom pergi ke Yogya lagi cari barang-barang antik. Soalnya ada pesanan dari Malaysia.
Mungkin sebulan lagi urusannya selesai. Sekarang cari barang-barang antik agak susah. Nggak kayak dulu", jawabnya.
"Jack satu kantor sama Hendrik?", tanyanya lagi.
"Iya Tante, tapi Hendrik manager saya sedangkan saya bagian marketing. Kebetulan saya sama
Hendrik suka mancing. Jadi sering ngumpul", jawabku.
"Oo.. Begitu"
"Tante mau nanya nih, teman Jack ada yang punya barang antik nggak?"
"Wah, kalo itu saya kurang tau Tante. Tapi mungkin nanti saya bisa tanya ke teman-teman"
"OK. Tante ngerti. Gini aja, seandainya ada teman kamu yang punya barang antik, telepon Tante ke nomor ini.. (sambil memberikan sebuah kartu nama lengkap dengan nomor HP) nanti kamu pasti dapat komisi dari Tante, gimana?"
"Siip deh Tante..", wah, lumayan nih bisnis kecil-kecilan.
Setelah berbasa-basi, Hendrik datang sambil berkata..
"Keliatannya seru, lagi ngobrolin apaan nih?"
"Ini.. Mama lagi ngomongin bisnis sama Jack. Gimana? Udah segeran?"
"Udah dong Ma.."
"Ntar sore anterin Mama belanja ke Club Store ya.. Stok di kulkas sudah mulai habis tuh. Jack ikut?"
"Nggak deh Tante. Makasih. Soalnya banyak tugas yang belum selesai dikerjain. Lagian saya belum mandi"
"Ok, deh Drik, aku pulang dulu udah sore nih", jam di tanganku menunjukan angka 6:10 menit.
"Ok hati-hati Jack.. Sampai ketemu besok di kantor"
"Permisi Tante"
"Iya.. hati-hati ya Jack.. Inget telepon Tante kalo ada barang antik OK?"
Setelah aku start motorku, aku langsung pulang. Sesampainya di rumah aku langsung mandi karena badan rasanya lengket semua.
Sejak saat itu aku sering membayangkan Tante Merry, walaupun aku sudah punya cewek yang sering kuentot. Terkadang aku ngentot cewekku tapi aku membayangkan sedang ngentot Tante Merry. Sampai colipun aku tetap membayangkan dia. Puas rasanya. Walaupun aku merasa sedikit berdosa sama Hendrik. Ternyata nafsu mengalahkan segalanya. Aku juga termasuk orang yang pandai menyembunyikan sesuatu.
Selang empat hari dari perkenalan itu, aku tidak melihat Hendrik di kantor. Untuk mencari tahu, aku telepon Hendrik ke HP-nya.
"Drik, kamu hari ini nggak masuk kenapa? Sakit atau ngentot?", candaku.
"Gila kamu ngatain aku ngentot.. Aku lagi dalam perjalanan ke Yogya nih. Sorry aku nggak sempat ngasih tau kamu. Buru-buru sih", jawabnya dari seberang telepon.
"Ngapain kamu ke Yogya?", tanyaku lagi.
"Kemarin malam Papaku nelpon, aku disuruh bawain laptop yang isinya katalog. Buku katalog yang dia bawa kurang lengkap"
"Ngapain susah-susah. Paketin aja kan beres?"
"Wah, resiko Jack. Lagian sekalian aku liburan di sini. Yah, sambil cari memek barulah.. Rugi dong aku udah minta cuti 2 minggu cuma buat jalan-jalan"
"Nggak ngajak-ngajak malah bikin ngiler aja"
"Sorry banget Jack.. Hahahaha.." setelah itu telepon ditutup. Sialan, pikirku.
Bengong di kantor.. Tiba-tiba terbayang lagi Tante Merry. Aku ada akal nih.. Semoga berhasil. Iseng-iseng aku SMS ke nomor HP Tante Merry, pura-pura menanyakan Hendrik. Isi SMS nya begini, "Tante, ini Jack. Hendrik kok ga msk kantor? Sakit ya? Tadi saya tlp ke hpnya tp ga nyambung2"
Setelah beberapa detik SMS terkirim, HP-ku berdering.. Kulihat nomornya, ternyata dari no telepon rumah Hendrik. Yes! Teriakku dalam hati. Tanpa basa-basi, langsung aku angkat.
"Hallo.." ucapku.
"Hallo, ini Jack?"
"Iya.. Ini Tante Merry ya?"
"Lho kok tau?"
"Nomor telepon rumah Tante tercatat di sini. Hendrik sakit ya Tante?"
"Lho, kamu nggak dikasih tau sama Hendrik kalo dia ke Yogya?"
"Hah, ke Yogya? (aku pura-pura kaget) Yang bener Tante. Kapan berangkatnya?"
"Kamu kok kaget banget sih. Berangkatnya tadi pagi banget sama Rudy. (Rudy bekerja sebagai asisten Papanya) Mungkin karena buru-buru jadi nggak sempat ngasih tau Jack".
"Kira-kira kapan pulangnya Tante?"
"Yah, mungkin 2 minggu lagi. Sekalian refreshing katanya".
"Wah, kasihan yah Tante jadi kesepian.."
"Iya nih.. Jack ke sini dong. Temenin Tante ngobrol. Itu juga kalo Jack nggak sibuk."
Horee!! Sorakku dalam hati. Kesempatan emas nih.. Gak boleh disia-siakan.
"Hmm, gimana ya..(pura-pura berpikir) OK deh Tante. Lagian saya nggak sibuk ini. Jam berapa Tante? Sekalian saya mau belajar bisnis sama Tante".
"Bener nih Jack nggak sibuk? Kalo Jack mau, dateng aja jam 6 sore. Gimana?"
"OK Sampai ketemu nanti. Saya urus kerjaan dulu".
"OK Tante tunggu ya.. Bye.."
Setelah menutup telepon aku bergegas pulang dan mandi. Karena waktu sudah menunjukkan angka 4:55 menit. Jam 5:50 menit aku sudah sampai di rumahnya. Di pintu gerbang, ternyata aku sudah disambut oleh seorang pembantu. Pembantu itu bertanya..
"Mas Jacky, ya?"
"Iya. Kok Mbak tau?"
"Tadi Ibu bilang kalo ada tamu yang namanya Jack suruh masuk aja. Gitu. Ayo silakan masuk Mas".
"Terima kasih Mbak".
"Sama-sama"
Begitu masuk, langsung kuparkirkan motorku di garasi berjejer dengan mobilnya. Lalu aku melangkah menuju ruang tamu. Tante Merry sudah duduk di sofa.
"Sore, Tante.. (aku sempat kaget begitu lihat Tante Merry yang sedang mengenakan pakaian senam dan keringat membercak di antara belahan payudaranya. Apalagi putingnya terlihat menonjol karena tidak pakai BH. Bentuknya masih mengkal, jadi gemas liatnya. Sesekali aku menelan ludah karenanya).
"Ayo, masuk aja Jack. Silakan duduk. Sorry Tante masih keringatan. Jangan malu-malu. Anggap aja rumah sendiri. Ternyata kamu tepat waktu. Tante suka orang yang selalu tepat waktu".
"Kebetulan aja Tante.."
"Jack, Tante bisa minta tolong nggak?"
"Tolongin apa Tante?"
"Tolong pijatin kaki Tante ya.. Sebentar aja. Tadi Tante aerobik nggak pemanasan dulu jadinya kaki Tante kram".
"Boleh deh. Tapi saya nggak jago pijat lho Tan".
Tanpa berkata apa-apa, Tante Merry merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya kemudian kakinya diletakkan di atas pahaku. Dia sengaja melebarkan sedikit kakinya sehingga aku dapat melihat bulu-bulu memeknya yang terjepit di antara selangkangannya. Kontolku sedikit mengeras dibuatnya, ditambah bau keringat bercampur bau memek yang khas. Oh.. Aromanya semakin terasa..
Aku mulai memijat betisnya. Oh mulus sekali kulitnya. Sekitar 5 menit memijat betisnya, tanganku naik ke pahanya. Mulanya dia diam saja. Lalu aku beranikan diri menaikkan pijatanku ke pangkal pahanya.
"Hmm.. Enak Jack. Kamu pinter.. Ya.. Di situ Jack.."
Aku sengaja meremas-remas pahanya semakin naik hingga jari kelingkingku menggesek-gesek memeknya yang masih dibalut baju senam itu. Aku pura-pura tak merasakannya. Mendapat pelakuan seperti itu, dia malah melebarkan pahanya namun matanya masih terpejam. Nafasnya pun sudah tidak beraturan. Melihat dia sudah bernafsu aku menghentikan pijatanku. Lalu dia membuka matanya..
"Kok berhenti Jack? Jack capek ya?". Dari tatapan matanya seolah dia ingin aku agar tidak berhenti menggesek-gesekkan jariku di memeknya.
"Nggak Tan. Cuma kalo posisinya gini kurang nyaman aja. Lagian nggak ada yang ditonton. Kan nggak semangat"
"Ya udah, kita pindah aja ke kamar Tante. Disana ada TV-nya. VCD juga ada, jadi kamu mijatnya kan bisa sambil nonton", lalu Tante menarik tanganku menuju lantai atas ke kamarnya.
"Nah, ini kamar Tante. Tante rebahan dulu, kamu pasang VCD-nya", wow, kamarnya luas. Mungkin 3 kali luas kamar kostku. Lengkap dengan home theaternya.
"Pilih aja film yang kamu suka", Tante menyuruhku sambil rebahan di springbednya.
Sedang asyik-asyiknya memilih-milih, tanpa sengaja kulihat sebuah CD yang diletakkan di bawah VCD player. Setelah kulihat ternyata CD BF bertuliskan Vivid.
"Kalo nonton yang ini boleh nggak?" tanyaku sambil menunjukkan CD-nya ke Tante Merry.
"Oh itu. Boleh aja. Tapi pijatnya tetap konsentrasi ya..?"
"Beres..", jawabku sambil memasukkan CD ke playernya.
Dengan posisi tubuhnya tengkurap menghadap TV, dan aku duduk di sebelahnya.
"Tadi kan udah paha, sekarang tolong pijatin punggung Tante yah. Pijatan kamu enak Jack"
Aku mulai meletakkan jari-jariku di punggungnya dan meremas-remas, sedang dia asyik menonton VCD yang aku putar. Pas adegan cewek bule yang memeknya dihisap dan dijilati oleh cowok negro, aku pura-pura bertanya..
"Tan, kalo cewek dijilatin gitunya enak ngga sih?"
"Tante sendiri nggak tau rasanya. Soalnya sama Oom nggak pernah digituin. Lagian jijik ah.."
"Ah, masa sih Tan? Kata teman saya rasanya jilatin memek itu enak-enak asin. Banyak cewek yang suka kalo memeknya dijilatin", ujarku sambil tanganku meremas-remas pantatnya.
"Emangnya kamu nggak pernah? Kenapa nggak cobain punya pacarmu?"
"Coba kalo saya punya pacar, mungkin saya nggak penasaran kaya gini" (Aku berpura-pura tidak pernah mencobanya, padahal sudah sering).
"Tante juga penasaran sih pengen dijilatin. Tapi Oom nggak bakal mau deh", mendengar kata-katanya aku langsung nekat meremas payudaranya dari belakang dan kudekatkan bibirku di telinganya..
"Jack mau jilatin memek Tante sekarang", ujarku sambil memasukkan lidahku di telinganya, kujilat cupingnya.. Dia hanya mendesah..
"Ohh.. Jack.. Hmmpp.."
Sebelum dia berkata apa-apa, kusumbat bibirnya dengan bibirku. Sekejap kemudian dia lalu dia membalikkan badannya. Kami berciuman dengan ganasnya. Lidahnya menyapu setiap dinding-dinding mulutku.
"Sejak pertama saya melihat Tante, saya sering membayangkan bersetubuh dengan Tante, abis Tante sexy banget sih", sambungku.
"Ah masa sih Tante sesexy itu?"
"Serius Tan"
Sambil terus berciuman, tangan kananku menjelajah ke selangkangannya. Dia semakin agresif menyedot bibirku. Ciumanku turun ke lehernya, kujilat lehernya..
"Sshh.. Jack.. Ahh.. Shh.." tangan kanannya mulai meraih batangku yang sedari tadi sudah mengeras.. Kurasakan nafasnya sudah mulai tak teratur.
"Keluarin kontollmuu Jack.. Ahh.." dia berhasil mengeluarkan kontolku dan mengocoknya.. Aku hanya bisa menikmatinya.
"Taantee.. Eenaak baangeett.. Ahh.. Shh.."
Kubuka bajunya hingga tersingkaplah dua bukit kembar dengan puting berwarna coklat. Kuhisap puting payudaranya yang kiri. Dia semakin keras mengocok kontolku.
"Sabar yah Tante, saya bukain dulu baju Tante.."
"Iya.. Ahh.. Stt.."
Setelah membuka bajunya, kini yang terlihat hanya tubuh sexy Tante Merry dengan gundukan bukit berbulu yang terlihat sedikit mengeluarkan cairan. Tanpa menunggu lagi, aku membuka semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat.
"Wow.. Lumayan juga kontol kamu Jack", ujarnya sambil memegang kontolku.
"Punya Oom nggak segini besar..", dipandanginya kontolku dengan tatapan heran.
"Ini juga belum maksimal Tante.. Daripada cuma diliatin, isep dong Tan. Ntar tambah panjang"
Dengan posisi aku berdiri menghadap ranjang dan Tante Merry menungging di atas kasur, dia dengan lahap menghisap kontolku. Dijilatinnya lubang kencingku, sedang tangan kirinya memijat-mijat buah pelirku.
"Hmm.. Terus Tan. Enak.. Ohh.. Aagak keraas Taan.."
Setelah 5 menit menjilati kontolku, aku menyuruhnya rebahan. Kubuka kakinya lebar-lebar hingga tercium aroma yang lezat sekali.
"Mau diapain Jack?"
"Tante tenang aja. Yang penting Tante puas.. Jack udah nggak sabar pengen jilatin memek Tante"
"Emang kamu nggak jijik?"
"Justru saya suka banget. Abis memek Tante bersih. Merah lagi"
Tanpa menunggu pertanyaan yang akan dilontarkannya lagi, aku langsung menjulurkan lidahku menuju lubang memeknya. Dia hanya bisa melenguh..
"Ooh.. Sshhtt.. Jack..", desahnya sambil tangannya menjambak rambutku. Mungkin karena baru pertama kalinya dia merasakan sensasi seperti itu.
Memeknya terasa asin di lidahku dan cairan yang keluar lumayan banyak. Tak kusia-siakan cairan itu mengalir begitu saja. Aku menyedotnya hingga terasa cairan kental asin melewati lidah hingga tenggorokanku. Setelah puas membersihkan cairannya, lalu lidahku menuju klitorisnya. Jambakan di rambutku bertambah keras dan desahannya semakin menjadi..
"Teeruus.. Di siituu.. Saayaanghh.. Oohh good.. Saayaanghh.. Saayyaanghh.. Ohh.. Enaak.. Sthhsstthh.."
Sekarang dia tidak lagi memanggilku Jack, tapi sayang. Aku semakin cepat menggerakkan lidahku berputar-putar di klitorisnya dan sesekali aku menyedotnya dengan keras. Beberapa detik kemudian kurasakan badannya bergetar dan kedua tangannya menekan kepalaku ke memeknya sehingga aku sedikit susah bernafas. Mungkin dia sudah mau keluar, pikirku. Aku semakin kuat menjilatinya hingga tanpa sadar dia berteriak..
"Ahh.. Saayaanghh.. Taanntee.. Mauu keelluuaarr.. Ahh.."
Ada cairan yang keluar dari memeknya. Kujilat dan kutelan lagi karena rasanya enak dan aku menyukainya. Lalu aku bangun. Kulihat wajahnya tersenyum puas.
"Makasih Sayang, sekarang masukin kontolmu, Sayang. Tante sudah nggak tahan"
"OK Tante", jawabku.
Lalu dibimbingnya kontolku menuju lubang tempat lahirnya sahabatku itu. Begitu masuk rasanya hangat sekali. Dan tidak lebar seperti yang pernah kubayangkan.
"Ohh.. Memek Tante enak banget.. Masih keset. Kaya perawan..", mendengar ucapanku dia tersenyum.
"Sekarang puas-puasin ngentot Tante yah!"
Aku mulai memaju mundurkan pantatku. Sleep.. Slepph.. Sleepph, bunyi di antara selangkangan kami. Tante Merry semakin meracau..
"Kkoonntooll.. Enaakk.. Sodok yang keraas saayaang.. Tante mau keluar lagii.. Ahh"
Kuturuti permintaannya hingga kontolku terasa mentok di perutnya. Lalu tubuh Tante Merry mengejang untuk yang kedua kalinya. Setelah 30 menit mengocok kontolku di dalam memeknya, kontolku terasa geli-geli nikmat. Sedetik kemudian tanpa sadar gerakan badanku semakin cepat.
"Taanntee.. Saayyaa.. Mauu.. Keelluuaarr.. Ahh.."
"Keeluuariin di daalaam saayaangh.."
Tangannya menahan gerakan pantaku. Akhirnya.. crroot.. crroott.. croott.. Kontolku terasa meledak. Lalu kutindih tubuhnya. Kami berpelukan selama beberapa menit.
"Makasih ya sayang, udah puasin Tante. Ini rahasia kita berdua OK?"
"Saya juga senang bisa puasin Tante. Kapan saja Tante mau, saya siap"
Setelah itu aku mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 9:30. Selesai mandi aku langsung pulang.
Sejak saat itu aku sering making love dengan Tante Merry. Kalau dia sedang horny, dia jemput aku dengan menelepon terlebih dahulu untuk check-in di hotel atau bungalow. Sampai dengan saat ini (2 bulan sejak pertama mengentot Mamanya) Hendrik masih belum mengetahui apa yang terjadi antara aku dengan Mamanya.
*****
Buat para wanita kesepian, Tante-Tante atau Ibu-Ibu yang berdomisili di Denpasar dan sekitarnya yang ditinggal suami dan ingin melampiaskan hasrat seksualnya, silakan hubungi saya via email, saya pasti akan membalasnya.
Jacky96@gmail.com
E N D
>><< PLAY VIDEO >><<
Markas Bokep Selembut Nafsu Wanita

Markas Bokep
Di suatu desa hiduplah seorang pemuda yang bernama Ryan Wilantara.
Ia sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojeg.
Pas awalnya pengalaman sebagai tukang ojeg biasa-biasa saja bahkan lancar-lancar saja.
Tetapi lama kelamaan pengalamannya semakin pahit.
Hal itu ditandai dengan semakin sepinya penumpang tetapi persaingan tetap ada.
Untuk mengubah nasibnya, akhirnya Ryan memutuskan untuk mengadu nasib di kota. Untuk modal tersebut Ryan terpaksa menjual motor milik satu-satunya itu. Akhirnya terjuallah motor Ryan seharga 5 juta kepada tetangganya yang kebetulan sedang membutuhkan motor.
Dengan modal sebesar itu jadilah Ryan pergi ke kota untuk mengadu nasib. Saat tiba di kota Ryan mencari kontrakkan yang cocok untuknya. Setelah cukup lama mencari, ia mendapatkan kontrakan dengan biaya sebesar Rp 150.000/bulan. Untuk ukuran Jakarta biaya tersebut termasuk murah.
Setelah resmi menempati kontrakan itu datanglah seorang gadis tetangganya untuk berkenalan.
"Hai.." sapa gadis itu.
"Hai juga.." balas Ryan.
"Aku baru melihatmu di sini."
"Ya memang saya baru datang dari desa untuk mengadu nasib di kota ini."
"Ooh dan siapa namamu?"
"Namaku Ryan, panggil saja aku Ryan. Dan namamu..?"
"Namaku Melisa, panggil saja aku Lisa."
Setelah itu cukup lama mereka berbincang-bincang mengenai diri dan pengalaman mereka.
"Lis, nanti sore kamu ada acara.?"
Lisa berpikir sejenak.
"Tidak, memangnya ada apa?"
"Aku mau mengajakmu untuk membeli mebel."
"Ya, bisa nanti aku, kau ajak."
Saat ini waktu sore pun tiba. Ryan dan Melisa pergi ke toko mebel sambil berbincang-bincang. Ryan membuka pembicaraan.
"Lis, aku saat ini menganggur dan ingin mencari pekerjaan. Apakah engkau punya informasi lowongan kerja?"
"Kalau di tempatku ada yaitu sebagai security, kamu mau?"
"Memangnya kerjamu dimana sih?"
"Aku bekerja sebagai DJ di sebuah diskotik."
"Kalau ada lowongan di sana tolong bantu aku dong."
"Ya, akan aku usahakan."
Pada suatu saat dengan usaha Lisa, Ryan di panggil oleh manager diskotik untuk wawancara. Dan wawancara berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun. Selain itu Ryan juga di terima untuk bekerja di discotik itu.
Ryan mulai bekerja pada esok malam yang kebetulan berbarengan dengan sahabat barunya, Lisa.
Hari pertama Ryan mulai bekerja pada pukul 6 sore sampai pukul 4 pagi. Begitu juga untuk hari-hari berikutnya. Kebetulan pada jam kerja itu berbarengan dengan Lisa sehingga mereka bisa berangkat bersama-sama.
Di discotik itu Ryan berkenalan dengan Herman sebagai kepala security. Malampun semakin larut tetapi pengunjung semakin ramai. Saat itu datanglah seorang wanita cantik berambut panjang mengunjungi diskotik tersebut. Ia datang sendirian dengan wajah yang murung yang mungkin di sebabkan karena kesepian.
Kemudian wanita itu menghampiri di mana Ryan dan Herman berada.
"Maaf, adakah yang bisa menemaniku?"
Atas permintaan wanita itu Ryan dan Herman saling tatap. Lalu Herman memberi kode agar Ryan yang memenuhi permintaan wanita itu. Ryan pun setuju karena Herman merupakan atasannya. Kemudian wanita itu menggandeng Ryan untuk menuju ka lantai discotik untuk berdansa. Musik mengalun lembut dan wanita itu mendekap erat tubuh Ryan. Dan wanita itu berkata:
"Aku baru melihatnu di sini."
"Ya, saya memang orang baru di sini."
"Kenalkan, namaku Sarah dan siapa namamu?"
"Panggil saja aku, Ryan."
Kemudian metreka kembali berdekapan erat sampai alunan musik selesai. Setelah itu Sarah kembali berbicara kepada Ryan.
"Ryan pas libur kerja maukah kau main ke rumahku."
Ryan berpikir sejenak.
"Mungkin bisa tetapi jam berapa?"
"Kira-kira jam 9 pagi lah."
"Ya, akan saya usahakan untuk mengunjungi rumahmu."
"Ohh, terima kasih Ryan." Ucap Sarah sambil mengecup pipi Ryan dan memberikan beberapa lembar seratus ribuan ke telapak tangan Ryan. Ryan berusaha untuk menolak tetapi sarah terus memaksanya. Akhirnya Ryan pun terpaksa menerima uang dari Sarah.
Setelah Sarah pergi keluar dari diskotik itu, Ryan memghampiri Herman untuk melaporkan kejadian yang baru dialaminya.
"Bang Herman tadi wanita itu memberiku uang sebanyak ini."
"Ooo, itu memang rejekimu, maka terimalah dan aku minta satu lembar untuk beli rokok."
Dan Ryan pun memberikannya dengan senang hati. Selain itu Ryan juga memberikan beberapa lembar uang tersebut kepada Lisa saat sampai di rumah kontrakannya. Dan Lisa pun sangat senang menerimanya. Beberapa hari kemudian Ryan teringat janjinya kepada Sarah untuk main ke rumahnya. Memang pada waktu yang lalu Ryan juga diberikan kartu nama dari Sarah.
Untuk menepati janjinya Ryan jadi pergi menuju rumah Sarah yang alamatnya sudah tertera di kartu nama dari Sarah. Dengan menggunakan angkutan umum, Ryan sampai di suatu pemukiman elit. Kemudian Ryan mencari rumah yang tertera di kartu nama tersebut. Setelah mencari-cari, Ryan menemukan rumah yang akan dicari. Saat Ryan sampai di pintu gerbang rumah Sarah, pintu pagar itu terbuka secara otomatis. Ternyata Sarah sudah menunggu di teras rumahnya.
Ryan sangat kagum dengan rumah Sarah, karena rumah itu sangat besar dan mewah. Halaman rumah itu cukup luas dengan aman yang sangat indah. Sarah menyambut mesra kedatangan orang yang dinantikannya, yaitu Ryan.
"Hai Ryan. Akhirnya kau datang juga."
"Engkau sudah lama menungguku?"
"Belum kok baru 5 menit aku menunggumu di sini, ayo kita ke dalam sekarang. Aku sudah menyiapkan santapan untukmu."
Akhirnya Ryan mengikuti Sarah untuk masuk ke dalam rumah gadis itu. Ryan sangat kagum dengan perabotan yang ada di rumah Sarah, semuanya serba lux dan sangat indah di pandang mata. Setelah itu mereka menuju ruang makan untuk makan siang bersama. Ternyata hidangan yang sudah dipersiapkan oleh Sarah cukup banyak yang membuat Ryan cukup terkejut.
"Wah, banyak sekali hidangan ini. Apakah ini hanya untuk kita berdua?"
"Ya, ini untuk kita berdua, memangnya kenapa?"
"Terus terang hidangan ini sangat banyak. Apakah kita berdua sanggup untuk menghabiskannya?"
"Kalau tidak habis, tidak apa-apa. Kan nanti bisa dihangatkan jika kita ingin makan lagi."
"Oh ya Sarah."
"Ya ada apa, sayang?"
Di rumah sebesar ini kamu tinggal dengan siapa?"
"Di sini aku tinggal sendirian dengan 2 orang pembantu."
"Berarti apakah kamu tidak kesepian?"
"Aku memang kesepian Ryan. Dan aku sangat berharap engkau mau tinggal bersamaku di sini."
"Waduh bagaimana ya. Aku saat ini masih bingung dan saya tidak enak dengan anggapan orang, karena kita ini bukan apa-apa dan baru berkenalan."
"Walaupun begitu aku mohon padamu Ryan agar engkau mau tinggal bersamaku di sini untuk mendampingi aku yang setiap saat kesepian."
Ryan semakin bingung dengan permohonan Sarah itu antara menolak atau menerima, dalam diri Ryan masih perang batin.
"Atau kalau engkau tak mau tinggal di sini bagaimana kalau engkau aku belikan sebuah rumah supaya aku bisa bebas untuk mengunjungimu"
"Wah jangan Sarah itu sama saja engkau membuat hutang budi kepadamu".
"Aku ikhlas kok yang penting kita bisa bertemu setiap saat."
Setelah makan siang selesai, mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya Sarah membuka pembicaraan kembali.
"Ryan, ikut aku yuk!"
"Kemana?"
"Pokoknya ikut deh."
Akhirnya Ryan mengikuti Srah untuk menuju keruang tengah. Di ruang tengah itu Sarah menyalakan TVnya yang cukup besar sekaligus VCD playernya. Ryan melihat Sarah memasukkan sekeping vCD ke playernya. Dan Sarah kembali mendekati Ryan untuk duduk di sampingnya sekaligus untuk menonton film dari TV itu.
Ternyata dari tangan di TV itu Ryan cukup terkejut karena yang di tampilkan adalah tayangan yang sangat vulgar. Tak lama kemudian Sarah bangkit untuk menuju ke kamarnya. Tak lama kemudian Sarah kembali muncul dari kamar dan memakai daster sutera tang sangat tipis dan tak ada pelapis tubuhnya selain daster itu. Kemudian Sarah mendekati Ryan yang sudah bangkit gairahnya karena menyaksikan tayangan vulgar dari TV itu.
"Ryan..
"Ya..
"Kita ke kamar yuk."
Bagai kerbau dicucuk hidungnya Ryan mengikuti Sarah untuk menuju ke kamarnya. Saat sampai di kamar, Sarah langsung mengunci pintu kamar. Ryan sangat kagum dengan keadaan di kamar itu. Kamar yang cukup luas, bahkan melebihi luasnya rumah kontrakan Ryan dan berisikan perabotan yang sangat mewah. Kemudian Sarah mengajak Ryan untuk ke ranjang tidurnya yang mewah dan empuk itu.
Didekat ranjang mewah itu Ryan dan Sarah saling berhadap-hadapan. Saling pandang. Dan Sarah langsung memeluk Ryan denagn hangat dan Ryan pun memeluknya. Saat berpelukan Ryan membelai rambut Sarah yang hitam mengkilat dan panjang tergerai itu. Kemudia Ryan mencium bibir Sarah yang sejak tadi merekah. Dan Sarah pun membalas denagn melumat bibir Ryan dengan hangat. Ketika mereka saling mempermainkan lidahnya, wanita kaya yang kesepian itu benar-benar melambung perasaannya.
Karena mereka sudah tak tahan lagi, Sarah melepaskan gaun tipisnya dan sekaligus melepaskan pakaian Ryan. Lalu Sarah terlentang di atas ranjang mewah dan menantikan pelukan Ryan. Kemudian Ryan memeluk tubuh itu. Menyentuh payudaranya yang ranum dan lembut kulitnya.
Ryan mencium bibir itu kembali. Lidahnya mempermainkan rongga mulut Sarah. Menggelitiknya dan menimbulkan rasa nikmat. Sarah memang masih perawan, dan Sarah dengan antusias menangkap lidah Ryan dengan lidahnya. Permainan yang panas itu terus berlanjut. Puas mencium, Ryan dengan lidahnya menyapu sepanjang leher. Sehingga membuat Sarah menggelinjang.
"Oohh, Ryan.."
Ryan hanya tersenyum saja. Dengus nafasnya kini terasa di telinga dan lidahnya menggelitik di lubang telinga itu. Kemudia Ryan mencucup puting susunya.
"Oohh..
Ryan tersenyum. Lidahnya mempermainkan puncak payudara itu. Kemudian menghisap-hisapnya.
"Ryan.."
Puas menghisap-hisap puting susu Sarah, Ryan menjilati kulit lembut sepanjang perut. Kemudian turun ke bawah, dan singgah di bukit kecil dengan rerumputan yang menghitam. Bau wangi khas parfum dan shampo membuat Ryan betah di tempat itu. Ia menciumi rerumputan itu.
"Oohh..", desah Sarah kenikmatan.
Sejuta keindahan terasa menyatu. Kenikmatan tiada tara. Kenikmatan yamg luar biasa. Akibatnya seluruh tubuhnya gemetar hebat.
"Ryan.."
"Ya?"
"Tak tahan nih.."
Ryan tersenyum. Ryan tahu Sarah masih perawan dan alat kemaluan Ryan sudah menegang sejak tadi dan siap untuk menghujam. Ryan mencoba benda itu untuk masuk ke dalam liang vagina yang tampak mulai basah dan lembab itu.
Ia tekuk kaki Sarah yang cantik. Ia lebarkan pahanya sehingga lubang dalam liang vagina itu menganga di depan senjata pamungkasnya. Dan ia mulai masuk. Mulai menekan. Tetapi sering terpeleset. Beberapa kali ia coba, tapi gagal lagi.
Akhirnya kedua tangan Sarah membantu melebarkan bibir vaginanya. Dan Ryan memasukkan senjata meriamnya, menekan dengan tubuh. Dan akhirnya melesak ke dalam, setelah Sarah menggerakkan pantatnya sedikit. Dan terdengar pekik tersentak.
"Oouwww..!"
Sarah memeluk tubuh Ryan, matanya berkaca-kaca.
"Kenapa?" tanya Ryan lirih.
"Sakit."
"Aku hentikan ya."
"Jangan Ryan walau sakit tapi enak kok."
"Benar?"
"Ya."
Lalu Ryan melanjutkan menusuk vagina Sarah dengan senjatanya secara pelan-pelan. Ryan tahu bahwa selaput kesucian Sarah telah pecah. Pastilah darah perawan itu akan jatuh ke sprey, menetes dan ia melihat Sarah menahan rasa sakit.
Namun di sisi lain ia kepuasan di wajah itu, maka ia kemabli menggerakkan senjatanya yang terlanjur menghujam ke dalam gua lembab itu, perlahan saja. Kemudian menekannya lagi, dan begitu seterusnya. Sarah merasa ada sesuatu yang bergerak cepat dan menggetarkan seluruh sendi darahnya. Dan mengalir dengan bergolak dahsyat.
"Oohh.."
Desah Sarah merasakan kenikmatan. Begitu juga dengan Ryan, gerakannya makin cepat dan makin bertenaga, akhirnya ia mencengkeram bahu Sarah dan memeluk wanita itu. Keduanya melenguh dahsyat. Berbarengan dengan itu cairan kental dan hangat menyembur dari lubang meriam Ryan dan dinding rahim Sarah.
Dengus kepuasan terasa sekali dari hidung Ryan. Begitu juga dengan hempasan nafas Sarah. Dan Ryan menggelosor di sisi Sarah, dan melihat ada apa di bawah pantatnya. Ia melihat ada bercak darah sedikit di atas sprey yang sudah acak-acakan tak karuan itu.
E N D
<<<>>> PLAY VIDEO <<<>>>
Rabu, 03 Mei 2017
Markas Bokep Pengalamanku Dengan Tutik

Sore itu jam di tangan ku sudah menunjukan angka 18.45
berarti sudah 30 menit aku berdiri di depan pabrik menunggu bis yang akan mengantar aku pulang belum dapat juga.
Oh ya aku ceritakan dulu tentang aku,
aku berusia 34 tahun sekarang ini, sudah punya dua orang anak dan seorang istri.
Keluarga kami bahagia walaupun hidup kami pas pasan.
Aku tinggal di kota M di Jawa Timur kota yang dingin dan dinamis, di mana penduduknya banyak yang cantik karena banyaknya pendatang yang masuk dan cakep cakep untuk laki lakinya. Sedang kerjaku jauh di luar kota di kota P, tapi karena sudah kerasan di kota M jadi kami sekeluarga tidak mau pindah atau bertempat tinggal di kota P, aku lebih mengalah Pulang - Pergi untuk kerja yang memakan hamper 2 jam perjalanan antara kota M dan P. Sedang cirri 2 aku tinggi tubuhku 170 cm, berat 68 Kg, bentuk yang ideal dan seksi untuk seorang cowok, sehingga jika berangkat atau pulang kerja ketika naik bis umum banyak mata melototiku, karena fisik juga tampang aku yang lumayan ok.
Itulah sekilas tentang aku. Dan sekarang aku lanjutin ceritaku di atas.
Setelah lebih kurang 30 menit berdiri menunggu bis, Hujan rintik turun, karena memang sudah mulai siang mendung menyelimutinya. Tapi beruntung tepat hujan rintik turun Bis umum yang aku tunggu tunggu sudah kelihatan. Setelah berhenti aku naik, ternyata tidak banyak penumpang yang naik. Aku memilih duduk di kursi isis dua tengah tengah bis, karena kursi yang mulai depan sudah terisi.
Setelah membayar aku pasang walkman aku dan mulai memejamkan mata meresapilagu lagu yang kubawa, dan tanpa kusadari aku tertidur, aku terbangun ketika seseorang membangunkan aku minta tempat duduk di sampingku, karena aku terlalu minggir menempati kursiku, sehingga tempat sebelahku tidak cukup untuk di dudukinya. Aku buka mataku ternyata seorang wanita sebaya denganku.
" Permisi mas! " katanya sambil minta tempat kepadaku.
" Oh silahkan Mbak " jawabku sambil menggeser pantatku memberi tempat duduk kepadanya.
Setelah duduk, wanita itu melepas jaketnya, dan ternyata cumin memakai kaos ketat tanpa lengan dengan kerah tinggi sehingga buah dadanya yang besar mungkin sekitar 36 B terlihat menantang pandanganku untuk mencuri curi kearahnya, sehingga kantukku langsung hilang dengan kehadirannya.
Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai, sehingga menambah daya seksinya yang menantang dengan bibir merah menyala, yang seakan akan menantang setiap pria untuk mengulumnya.
" Mau kemana Mbak? " tanyaku memberanikan diri bertanya setelah Bis memasuki sekitar Kecamatan K.
" Pulang Mas kekota M! " jawabnya sedikit angkuh, mungkin sebel aku ajak mengobrol.
Aku diam lagi, nyaliku langsung surut lagi. Dan untuk mengusir keheningan dan ketidak enakan suasana, aku pasang lagi walkmanku yang tadi udah aku lepas ketika pertama kali wanita itu duduk di sampingku. Sampai di kota M aku tidak menegurnya lagi.
Itulah awal mulanya perjumpaanku dengan wanita itu, Hingga beberapa hari lagi aku ketemu lagi dengan nya.
Malam itu aku pulang agak malam sekitar jam 19.30 baru dapat bis. Seperti biasanya aku duduk di kursi isi dua. Malam itu wanita yang kemarin dulu aku sapa agak angkuh naik lagi tapi tidak duduk di sampingku, dia duduk agak di depan kursiku. Melihat dia duduk ddi depan kursiku sendirian aku memberanikan diri pindah tempat duduk di sampingnya. Wanita itu diam saja ketika tau aku duduk di sampingnya, malah dia tersenyum dan memberi aku tempat duduk di sampingnya.
" Lho Mbak kok sudah dua kali ini bareng terus sih?, apa Mbak kerja di sisni juga? " tanyaku sedikit takut-takut.
" Oh enggak kok mas, ini hanya kebetulan saja habis bermain ke tempat saudara!" Jawabnya sambil tersipu malu.
" Emang punya saudara di daerah sini? " tanyaku menyelidiki.
" Iya Mas di daerah sekitar aku naik tadi!" terangnya sambil menawarkan permen kepadaku.
" Kok sendirian saja Mbak main ke tempat saudara? apa tidak di marahin suami? " tanyaku lagi sambil tersenyum menggoda.
" Aku sudah sendirian kok mas! "
" bener nih sendirian? " tanyaku lagi kegirangan mendengar keterangan darinya.
" Iya aku sudah janda, suamiku tidak ketahuan tempatnya, meninggalkan aku setelah anak kami lahir!" jawabnya memastikan aku yang kelihatan kurang percaya.
" Mbak kerja di mana? atau nganggur di rumah? " Tanyaku lagi.
" Kerja mas!, Kalau Mas sendiri? "
" Aku juga kerja..!, Mbak kerjanya di mana? "
" Jaga took di malang!, Mas kerja di mana? "
" Dipabrik di daerah Kota P " jawabku memastikan.
Itulah sepenggal pembicaraanku ketika pertama kali bertemu. Setelahg pertemuan itu, tepatnya tiga hari setelah pertemuanku dengannya, aku mencoba menelponnya di tempat dia bekerja.
" Hallo.. apa kabar? " sapaku .
" Hallo.. baik, ini sapa? " balasnya kebingungan.
" Ini Aries.. yang bareng kamu kemarin..! Ini Mbak Tutik ya? " tanyaku menyakinkan.
" Iya Mas lagi di mana sekarang? " balasnya ramah seraya tersenyum.
" Udah di sini, pulang jam berapa kamu? " Tanya aku menggoda.
" Bentar lagi mas!, emang mau njemput nih? " godanya menantang.
" Emang kaga ada yang marah nih? " balasku memastikan.
" Kaga mas, kalo mau tunggu aja aku di depan!" jawabnya seraya menutup telp tanpa memberi kesempatan padaku untuk menjawab, jadi mau gak mau aku terpaksa menjemputnya di depan tempat kerjanya.
Jam 21.15 aku sudah sampe di depan tempat kerjanya yang ternyata sudah tutup. Aku bingung mencari dimana dianya menunggu, setelah tengok kanan, kiri ternyata Tutik tampak berlari kecil menghampiriku, keluar dari sebuah gang di samping tempat kerjanya.
" Lama ya nunggunya? " sapanya sambil tersenyum ramah padaku.
Aku diam beberapa saat terperangah melihat penampilannya malam itu. Tutik terlihat begitu seksi dengan kaos ketat warna hitam dan celana street warna hitam begitu kontras dengan warna kulitnya yang begitu putih.
" Kok diem sih di tanyain? Ayo berangkat! " sapanya lagi sambil mencubit lenganku.
" Ayuk! " jawabku sambil menstarter sepeda motorku.
" Kemana nih?" tanyaku setelah berjalan beberapa saat.
" terserah mas, aku manut aja? " jawabnya sekenanya sambil melingkarkan Tanya keperutku.
" kamu sudah makan belum? " tanyaku lagi.
" Sudah tadi sore?, emang Mas belum makan? " balasnya.
" Sudah kalo nasi kalo orang belum!" Jawabku bercanda.
" Waouuw! " teriakku takkala tangan Tutik mencubit perutku.
" Kenapa? sakit ya? " tanyanya sambil cekikikan, merasa senang aku menjerit kesakitan.
" Tidak Mbak? cuman kecewa!, Habis nyubitnya salah tempat sih Mbak? " godaku makin berani.
" Emang mintanya di cubit mana? " tanyanya penasaran.
" Bawahnya donk.. tapi kaga di cubit! " sahutku sambil menoleh .
" Emang mau? " Balas Tutik seakan menantang.
Kena nih pikirku..
" Mau donk.. emang itu mauku kok, tapi kalo Mbak juga mau! " balasku sambil cengengesan.
" Kaga ah paling juga kecil lagian.." sahutnya menggoda.
Tapi aku juga kaga kekurangan akal, belum sempat meneruskan pembicaraannya ke genggam tangannya dan kuletakan di atas Penisku yang sudah mulai tegang. Ternyata Tutik tidak menolak juga, malah sekarang diam sambil mengelus elus Penisku yang makin membesar.
" Wah ternyata besar juga ya punya kamu!" bisiknya di belakang telingaku.
" Kamu mau? " tanyaku menantang sambil meremas tangan kirinya.
Tutik diem saja sambil tersenyum, dan pikirku dia tidak menolak kalau aku ajak untuk bersenang senang malam ini.
Dan tanpa minta persetujuannya ku larikan motorku kearah Kota B Yang memang sangat asyik pemandangannya dan suasana kotanya, juga dingin udaranya.
Tutik diam saja, malah semakin erat pelukan tangan kirinya, sedang tangan kanannya tidak pernah lepas dari Penisku yang sudah sangat tegang sekali oleh urutan dan elusan tangannya. Bahkan kadang-kadang dia mengerang tanda birahinya juga sudah memuncak. Dan tanpa minta persetujuanku resulting celanaku di bukanya. Aku yang mengerti maksud dan tujuannya, ikut membantu membuka resulting dan melonggarkan sabuk dan kancing celana jeansku. Setelah terbuka
Tangan kanannya tidak hanya mengelus dan mengurut Penisku lagi malah kadang-kadang di kocoknya Penisku. Aku diam saja merasakan elusan dan urutan tangannya yang terlihat sudah sangat berpengalaman, bahkan aku kadang-kadang menggoda dengan kata-kata yang romantis sehingga kadang-kadang tangan kirinya mencubit perutku lagi, sampai aku berteriak minta di hentikan baru di lepaskan cubitannya.
Setelah sampai di Kota B, aku langsung mencari Hotel yang sekiranya pas untuk isis dompetku.
" Malam pak, ada yang bias saya Bantu? " tanya petugas jaganya seorang laki-laki.
" Malam juga, apa masih ada kamar yang kosong Pak? " balsaku sambil melihat brosur yang di tawarkan padaku.
" Tinggal ini Pak yang kosong! " katanya sambil menunjuk no dan lokasi kamarnya pada denah brosur itu.
" Oh ini saja Pak! " sahutku sambil menunjuk kamar no 31 yang bertarip Rp 75.000,00 semalam, kamar kelas standart.
Setelah selesai membereskan administrasinya, aku di antar room boy menuju kamar yang aku pesan. Setelah masuk dan room boy meninggalkan kami berdua, Tutik langsung memeluk dan mencium bibirku, dan aku yang sudah sangat terangsang mulai berangkat tadi langsung melumat bibir seksinya sambil berdiri di muka pintu yang sudah aku tutup. Resleting yang baru saja aku betulin ketika mau masuk hotel tadi sudah di buka lagi dengan kasar oleh Tutik. Dan tangan nya langsung mengelus elus.
Penisku seperti ketika berangkat tadi, malah beberapa saat kemudian dia berjongkok di depanku dan mengulum Penisku dengan rakusnya tapi sangat enak rasanya. Ternyata Tutik sangat berpengalaman dalam hal ini, walaupun agak kasar mengulumnya tapi tidak pernah sampai terkena gigi putihnya yang sangat terawat rapi seperti gigi pengiklan pasta gigi.
Setelah berjalan sekitar 15 menit berdiri di depan pintu, kutuntun Tutik sambil tetap berciuman seakan tidak mau melepaskan sekejapun lumatan bibirnya, ke tepian ranjang. Lalu aku duduk di tepi ranjang sambil tetap berciuman, sedang tangannya juga tak lepas dari penisku. Sambil membungkuk, kulepas kaos ketatnya, dan tampaklah buah dadanya yang putihbersih menantang, dengan ukuran sekitar 36 B, ku alihkan lumatan bibirku ke payudaranya, dan kupangku dia di atas pahaku.
Tutik mendesah kegelian tatkala kumisku mengeser geser di atas puntingnya, kepalanya mendongak ke belakang sambil bergerak ke kanan dan kekiri merasakan kegeliannya yang sangat hebat, sedang kedua tangannya mendekap kepalaku seolah takut kehilangan moment mencium payudaranya. Sedang kedua tanganku meremas remas pantatnya yang besar nan kenyal sambil meraba raba pahanya, kadang kadang ke masukan tangan kananku ke duburnya.
Setelah puas melumat payudaranya, aku menjatuhkan badanku ke ranjang sehingga sekarang Tutik berada diatas tubuhku yang sudah tidak berbaju, dan seperti sudah tahu ke mauanku, Tutik meranggkak di atas tubuhku, sambil melepaskan celana jeansnya dan CDnya, dia duduk diatas mulutku yang sudah siap untuk menjilati memeknya yang terlihat bersih tanda di rawat dengan baik.
Aku dengan sangat bernafsu menjilati memeknya yang mulai basah oleh lender wanitanya dan air liurku. Sedang Tutik tangannya tidak mau ikut diam dengan setengah membalik badan dia meremas remas penisku yang masih terbungkus CD dan celana yang terbuka resultingnya. Aku juga demikian, kedua tanganku meremas payudaranya yang terayun ayun oleh gerakan badannya yang merasakan kegelian memek dan payudaranya.
Setelah sekian lama kami ber alih posisi, Tutik membalikan badannya dan melepas CD dan celana panjangku. Ketika membungkuk ku korek korek memeknya dengan kedua jariku. Setelah terlepas dia langsung menghisap penisku, dan memeknya di pampangkan didepan mulutku, kami ber main 69.Sedang tangan kananku meremas remas pantatnya sedang tangan kiriku meremas remas payudaranya. Tutik menghisap sambil mengocok penisku dengan tangannya, Sambil mengerang ngerang kegelian. Sedang aku kadanga kadang ku telusukan jari tanganku ke duburnya yang berwarna coklat tua tapi bersih.
Setelah puas saling melumat, Tutik merangkak turun dan mengatur posisi memeknya di atas penisku yang sangat tegang seperti tonggak kayu tapi berbentuk pedang bulat, karena saking tengannya penisku. Setelah merasa pas, pantatnya diturunkan pelan-pelan sambil menggoyang kan pantatnya kekanan dan kekiri pelan pelan, karena saking sempitnya memeknya dan besarnya penisku.
Hampir lima menit Tutik baru bisa memasukan penisku kelubang memeknya, itupun baru setengahnya, dia menjerir kegelian sambil meremas sendiri payudaranya, sedang aku memegang pinggangnya supaya tidak terlalu cepat keluar masuknya. Setelah masuksemua, Tutik mulai membungkuk dan menurun naikan pantatnya sambil terus mendesah kegelian.
" Achh, uenakk sayy! " teriaknya kegelian sambil terus menggenjot pantatnya naik turun.
" Terus say, goyang pantat kamu! " teriakku membalas sambil tetap memegang pinggangnya.
" Kenapa enak begini say!, Punya kamu sungguh besar dan nikmat banget! " ceracaunya tak karuan.
" Punya kamu juga Say..!" Balasku.
Setelah sekitar lima menit menggoyangkan pantatnya dalam posisi seperti itu, aku duduk, sehingga Tutik seperti aku panggku dari belakang. Sambil terus bergoyang kuremas payudara Tutik dari belakang. Kepal Tutik mendongak dongak takkala kupelintir puntingnya dank u cium leher belakangnya.
" Say.. terus say..! " teriaknya.
" Enak say? "bisikku sambil mencium belakang telinga kanannya.
" Iya terus say.. Sampai pagi mau kan..!" balasnya sambil mendesah desah.
Setelah terlihat agak kendor goyangannya, kubalik badan Tutik sehingga sekarang kami saling berhadapan. Sambil kulumat Bibirnya aku merayap ketepi ranjang, lalu aku berdiri sambil mengendang Tutik dengan tanpa merubah posisi penisku yang masih menancap di dalam memeknya.
Ketika berdiri, Tutik lansung menggoyangkan pantatnya naik turun sambil bergelayut di leherku, sementara tanganku menyangga pantatnya sambil membantu menaik turunkan badanya. Kepalanya kembali mendongak merasakan kegelian yang sangat hebat.
" Say..! " teriaknya ketika kurasakan cairan wanitanya kembali keluar setelah tadi waktu aku jilatin memeknya juga sudah keluar.
Berarti sudah dua kali Tutik mencapai orgasmenya. Sedang aku belum merasakan apa apa.
" Say kamu sungguh Hebat!, pelupuk mataku sampai merasakan kegeliannya, merinding rasanya seluruh badanku say.." racaunya tanpa menghentikan ayunan pantatnya.
Setelah sekian lama berdiri aku berjalan mendekati meja rias, kududukan Tutik tanpa melepas posisi penisku di meja rias, lalu ku angkat kedua kakinya, Tutik tanpa disuruh menyandarkan badannya di kaca meja rias itu. Setelah sekira pas posisinya ku genjot pantatku maju mundur sambil sesekali ku goyang kekanan, kekiri, dan memutar. Tutik makin meracau tak karuan.
Setelah kira kira berjalan lima menit, kulepaskan penisku dan aku langsung berjongkok di depam memeknya, dan kulumat lagi memeknya yang sudah sangat basah oleh lender kewanitaannya.
Kembali Tutik meracau tak karuan ketika kelentitnya ku sedot sedot, sambil tangannya mendekap kepalaku seakan akan dia tak mau melepaskan sedotan bibirku dari kelentitnya yang merah menantang.
Setelah puas mempermainkan kelentitnya kupindahkan lumatan bibirku ke bibir memeknya yang berwarna merah muda, juga lidahku kujulurkan menusuk nusuk lubang vaginanya yang sangat menantang. Setelah puas kutuntun Tutik berjalan ke tepi Ranjang dan kududukkan di sudut Ranjang, lalu kudorong badannya sehingga badannya tidur di ranjang sedang kakinya menjuntai di tepi ranjang. Terus ku ambil dua bantal dan kutaruh di bawah pantat Tutik. Tutik yang mengerti maksud aku langsung mengangkat pantatnya ke atas. Setelah sekira pas posisinya kembali ku jilati memeknya sebelum aku masukan penisku ke dalam memeknya dalam posisi di ganjal bantal sehingga memeknya terlihat menyembul tapi makin sempit.
" Cepet Mas masukin punyamu..!" Teriaknya ketika ku mainkan kepala penisku di bibir vaginanya.
Aku tersenyum melihat rona wajanya yang terlihat makin seksi dalam keadaan awut awutan di amuk gelombang birahinya yang memuncak. Sedikit demi sedikit kudorong penisku masuk vaginanya yang semakin sempit dalam posisi pantat di ganjal. Setelah masuk semuanya aku diamkan beberapa saat sambil melumat bibirnya.sedang tangan kiriku meremas remas payudaranya dan tangan kananku menyangga tubuhku yang berada di atas tubuhnya. Kira kira selama lima menit kami berpanggutan seperti itu sampai terasa sesak nafas kami berdua.
" Say, kenapa baru sekarang kita ketemu? " Tanya nya seakan menyesal.
Aku cuman tertawa tanpa menghiraukan ceracaunya. Lalu aku genjot perlahan lahan memknya yang semakin sempit itu rasanya di dalam vaginanya penisku di remas remas oleh dinding vaginanya yang bergerigi dan terasa legit atau keset atau istilah lainnya yang tidak aku tahu. Tapi yang jelas sangat berbeda banget rasa Vagina Tutik dengan vagina vagina wanita lain yang selama ini aku setubuhi.
Vagina Tutik sama sekali tidak berbau, dan sangat keset, tidak sampai banjir banjir. Sepuluh menit sudah aku bergoyang di atas tubuh Tutik dengan posisi ini, setelah puas kuanggkat kedua kakinya, dank e genjot maju mundur pantatku menyodok nyodok memeknya. Dalam posisi ini Tutik makin mengerang erang kegelian. Kepalanya bergoyang ke kanan kiri menahan kegeliannya.
Lalu kurusuh dia merambat agak keatasagar kakinya tidak menjuntai lagiaku mengikuti di atas tubuhnya tanpa melepas posisi penisku yang tertanam di dalam memeknya.
Setelah sampai di tengah tengah ranjang, kugenjot lagi pantatku dalam posisi konvensional. Sambil kulumat bibirnya hingga beberapa saat lamanya. Lalu kami berguling tanpa melepas penisku. Setelah Tutik di atas dia merubah posisinya duduk seperti naik kuda dan terus menggoyangkan pantatnya naik turun. Kedua tanganku meremas remas kedua payudaranya dari depan. Setelah agak lama, Tutik aku suruh berputar sehingga seperti posisi semula kami bersetubuh. Lalu kutarik tubuhnya dan dengan ku pegang pinggangnya mulai lagi goyangan pantatnya. Di posisi ini, Tutik mengeluarkan lender kewanitaannya lagi sehingga sudah tiga kali Tutik mencapai orgasme.
Setelah terlihat capai, tubuh Tutik kutarik sehingga jatuh di dadaku, lalu kuciumi lehernya dan ka, mi bergulingan lagi tanpa melepas penisku yang masih tertanam di dalam memeknya. Setelah aku diatas tubuhnya lagi, aku mulai lagi bergoyang Tutik tampak semakin merasakan keperkasaanku di atas ranjang. Raut wajahnya tampak sekali merasakan kepuasannya.
" Say aku puas sekali merasakan permainan kamu say..! " katanya memuji kehebatanku.
" terus say.. Goyang lagi say.. tusuk memekku dengan senjatamu say.." rengeknya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Aku terus menggejot memeknya dari belakang sampai sekitar sepuluh menit lamanya.
Lalu kusuruh Tutik menungging atau posisi Doggly style, tapi sebelum kumasukan penisku dari belakang, ku cium lagi memeknya dari belakang kadang kadang kujilati juga lubang duburnya.
" Say jangan daerah itu jijik donk!" larangnya walau tanpa merubah posisi menungginggnya.
Aku tersenyum saja sambil terus menjilati lubang duburnya dan memeknya secara bergantian.
Setelah puas kutusukan lagi penisku dari belakang ke dalam memeknya.
" Say! " teriaknya ketika aku telusupkan penisku kedalam memeknya.
Entah terasa sakit atau geli aku tidak tahu yang jelas penisku sangat enak banget rasanya sehingga sampai tidak dapat menjelaskan namanya.
" Enak say..!? " tanyaku setelah kugoyang pantatku maju mundur sambil memegang payudaranya, sehingga seperti main kuda.
" Enak banget say.. Kamu bener bener hebat dan pandai sekali mempermainkan aku. Aku sampai kuwalahan banget say..! " sahutnya sambil terengah engah kenikmatan.
" Mau terus begini say..? sampai pagi kuat..? " godaku sambil memutarkan goyangan pantatku.
" Mau say mau sekali.." jawabnya sambil menengok aku. Dan pas menengok ku lumat bibirnya sampai terasa sesak nafas kami berdua.
" Say.. Aku keluarin di mana nih..? Dalam atau luar? " tanyaku beberapa saat kemudian, setelah aku merasa mau keluar.
" Dalam aja say, aku pingin merasakan kenikmatan air manimu yang begitu hebat ini! " balasnya sambil tersenyum puas.
" Apa kamu suad mau kena lagi say?" tanyaku lagi.
" Bentar lagi say..kita bareng bareng ya say? "
" OK.." Jawabku singkat sambil mempercepat maju mundurnya goyangan pantatku.
" Say aku mau keluar!" teriaknya beberapa saat kemudian.
" Aku juga say " jawabku singkat.
" Ayo say aku sudah tidak kuat lagi.." teriaknya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
" Sekarang say.." Teriakku sambil mendekap tubuhnya dari belakang, ketika airmainku mulai muncrat kedalam vaginanya, dan goyanganku semakin aku percepat.
Tutik tidak menjawab, tapi tangan nya mencekram selimut dan kasur pertanda mencapai klimaks seperti aku. Setelah beberapa saat terdiam kami mengelosor sambil berpelukan dari belakang, dan tanpa sadar tertidur dengan posisi miring sambil memeluk tubuhnya dari belakang.
Malam itu kami sempat melakukan lagi sekali lagi dan tertidur lagi sampai matahari sudah berada di atas tubuh. Jam di tanganku kulihat sudah pukul 10 siang. Setelah mengambil sarapan di kursi teras kami berdua mandi bareng di bath up, dan melakukan lagi sampai keluar lagi air maniku yang ketiga kali. Sebelum jam check out tiba kami keluar dari hotel, pulang dengan perasaan puas yang tak terhingga walau seluruh badan terasa capai sekali.
E N D
<<<>>> PLAY VIDEO <<<>>>
Langganan:
Komentar (Atom)